Negara Raup Rp2,4 Miliar per Bulan dari Ruang Udara Batam

Anwar Sadat Guna    •    Rabu, 12 Oct 2016 17:27 WIB
kedaulatan nkri
Negara Raup Rp2,4 Miliar per Bulan dari Ruang Udara Batam
Sebuah pesawat mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (5/1/2016). Antara/MN Kanwa

Metrotvnews.com, Batam: Pendapatan negara dari lalu lintas pesawat komersial di ruang udara Batam yang masih dikendalikan Singapura ditaksir mencapai Rp2,4 miliar per bulan. Angka tersebut didapat dari jumlah penerbangan pesawat di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. 

Kepala Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Suwarso, mengatakan penguasaan ruang udara Blok ABC (Batam, Tanjungpinang, Karimun, hingga Natuna) oleh Singapura tak hanya memberikan pengaruh besar terhadap pertahanan negara dan keamanan udara, tetapi juga dari segi ekonomi, yakni pendapatan negara dari lalu lintas pesawat komersial.

"Untuk Batam (Bandara Hang Nadim) saja terdapat 68-70 flight termasuk penerbangan internasional tujuan Malaysia. Bila dihitung-hitung, pendapatan dari lalu lintas pesawat komersial itu mencapai Rp2,4 miliar per bulan," kata Suwarso, baru-baru ini. 

Jumlah tersebut belum termasuk penerbangan dari Bandara Raja Haji Fisabilillah, Kota Tanjungpinang, dan Bandar Udara di Natuna. Potensi pendapatan negara itu ditargetkan dapat meningkat apabila pemerintah dapat mengambil alih ruang udara Blok ABC dari Singapura. 

"Pendapatan tersebut (Rp2,4 miliar per bulan) masuk dalam pendapatan negara dan diserahkan Otoritas Singapura kepada pemerintah. Jadi, salah jika ada anggapan bahwa negara kita tidak mendapatkan untung dari kendali ruang udara Blok ABC," ujarnya. 

Duta Besar Indonesia untuk Singapura, H.E. Ngurah Swajaya mengatakan Indonesia sejauh ini terus berupaya mengambil alih pengusahaan ruang udara atau Flight Information Region (FIR) atas Blok ABC. 

Salah satu upaya yang terus dilakukan adalah masuk dalam keanggotaan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO). "Pembenahan terus kita lakukan untuk menuju ke sana (ambil alih FIR atas Blok ABC)," kata Ngurah Swajaya. 

Ia mengatakan sudah ada pembicaraan awal antara Indonesia dengan Singapura tetapi belum masuk pada substansi masalah. "Komunikasi dengan Singapura terus kita intensifkan. Kita harus benar-benar siap, baik SDM maupun peralatan navigasi sebelum mengambil alih kendali ruang udara blok tersebut," katanya.

Diberitakan sebelumnya, pemerintah terus mengintensifkan pembahasan di tingkat kementerian untuk mengambil alih ruang udara Blok ABC yang hingga saat ini dikuasai Singapura. Blok tersebut yakni Batam, Tanjungpinang, Karimun, hingga Natuna di Kepri. 

Upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah menyiapkan sumber daya manusia dan kemampuan peralatan navigasi.


(UWA)