Petani Kopi Wayakanan Butuh Bantuan

Antara    •    Kamis, 09 Mar 2017 11:08 WIB
produksi kopi
Petani Kopi Wayakanan Butuh Bantuan
Petani menjemur buah kopi di Blambangan Umpu, Waykanan, Lampung -- ANT/Gatot Arifianto

Metrotvnews.com, Waykanan: Petani kopi di Kabupaten Waykanan, Lampung butuh bantuan untuk meningkatkan produksi serta kualitas biji kopi yang dihasilkan. Terakhir, pada 2012 mereka mendapat bantuan berupa mesin penggiling kopi dari Pemerintah Provinsi Lampung.

"Sudah berapa tahun ini belum ada bantuan modal dari pemerintah kabupaten maupun provinsi kepada petani kopi yang ada di Waykanan. Ini membuat hasil panen kopi kurang maksimal dan perlu perhatian khusus dari pemerintah," kata Sukardi dari Indikasi Geografis Kopi Robusta Lampung, Kamis, 9 Maret 2017.

Sukardi menjelaskan, hasil pengolahan biji kopi tidak optimal karena kurangnya peralatan memadai yang diperlukan petani, seperti lahan jemur kopi permanen dan alat penggiling kopi. Selama ini, semua masih dilakukan secara tradisional.

"Jadi bila hasilnya kurang maksimal, ya jangan salahkan petani kopi. Karena para petani juga masih meggunakan cara-cara tradisional, seperti menjemur di atas tanah atau aspal," kata dia.

Menurut Sukardi, tahun ini Dinas Perkebunan Waykanan telah mendata semua petani kopi, khususnya di Kecamatan Banjit. Daerah itu memiliki jumlah lahan terbesar di antara 14 kecamatan lainnya, yaitu mencapai 1.500 hektare. Dalam satu hektare, lanjut Sukardi, mampu menghasilkan kopi hingga dua ton per tahun.

Petani kopi asal Kampung Rantau Tumiang Kecamatan Banjit itu menuturkan, hasil panen yang cukup tinggi harus diimbangi perlengkapan, seperti tempat jemur yang permanen agar hasilnya tidak diletakkan di tanah dan aspal. Cara seperti itu untuk menjaga aroma kopi agar tidak berubah.

Setiap kopi yang baru saja dipetik oleh petani, kata Sukardi, dapat langsung dijemur untuk mengurangi kadar airnya. Dengan kadar air 25 persen, harga kopi per satu kilogram mencapai Rp23 ribu. Sedangkan, kopi kering dengan kadar air 18 persen dihargai Rp25 ribu per kilogram.

Perbedaan itu harus dapat dicermati seluruh petani kopi. Sebab, menjual kopi kadar air tinggi dapat membuat petani kopi merugi atau hasil jualnya tidak seperti diharapkan.

"Yang pasti harga jual kopi di Waykanan tinggi, hanya saja proses yang masih panjang agar harga jual tersebut tinggi dan mahal di pengumpul," kata Sukardi yang juga ketua kelompok tani kopi tersebut.

Bupati Waykanan Raden Adipati Surya mengatakan, Pemkab Waykanan akan menggandeng perbankan untuk membantu permodalan para petani kopi di daerah itu. Orang nomor satu di Bumi Ramik Ragom itu juga mengharapkan bantuan pihak lain, baik dari pemerintah, BUMN, maupun swasta, untuk bisa membantu serta memberikan modal kepada petani kopi.

"Agar terus bersaing di dunia perkopian serta memberikan peningkatan perekonomian para petani kopi. Kita akan gandeng perusahan, bila perlu kita bawa para petani, pengrajin, atau pengolah kopi ke pemerintah pusat agar mengetahui kualitas kopi Waykanan yang tidak kalah baiknya dengan kopi milik Kabupaten Tanggamus dan Lampung Barat," pungkas dia.


(NIN)