Pembebasan Jalan Tol Trans Sumatera Tahap II Selesai Maret

Ahmad Novriwan    •    Rabu, 08 Feb 2017 11:35 WIB
jalan tol trans sumatera
Pembebasan Jalan Tol Trans Sumatera Tahap II Selesai Maret
Suasana pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggi Besar di kawasan Desa Sabah Balau Lampung Selatan, Lampung -- MI/Ahmad Novriwan

Metrotvnews.com, Bandarlampung: Pembebasan lahan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) tahap II ditargetkan selesai pada Maret 2017. Lahan yang dimaksud yakni ruas Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah hingga Pematang Panggang, Kabupaten Mesuji.

Ketua Tim Percepatan Pembebasan Lahan JTTS Adeham mengaku, pihaknya terus berkoordinasi dan melakukan pendekatan dengan semua pihak. Termasuk perusahaan dan warga pemilik lahan.

Menurutnya, kunci utama percepatan pembebasan lahan berada di tangan perusahaan yang dilalui tol. Rute pembangunan tol tahap kedua ini akan melewati 12 perusahaan, di antaranya PT Great Giant Pineapple (GGP), PT Bumi Waras (BW), PT Bumi Lampung Persada, PT Gunung Madu Plantation (GMP), dan PT Citra Lamtoroagung Perkasa.

"Perusahaan tersebut yang susah, karena tanah yang kami minta untuk jalan tol cukup luas. Kami minta kepada perusahaan supaya cepat membantu. Sementara, untuk masyarakat tergantung bagaimana cara pendekatannya," jelas Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Provinsi Lampung itu usai rapat percepatan pengukuran dan penilaian pengadaan tanah jalan tol di Bandarlampung, Lampung, Rabu, 8 Februari 2017.

(Baca: Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Lampung Selesai di 2018)

Penjabat Bupati Tulangbawang Barat itu meminta perusahaan agar tidak terlalu kaku dalam proses pembebasan lahan. Misalnya, perusahaan mengizinkan alat operasi masuk, walaupun penilaian belum dilaksanakan.

Jika menunggu proses penilaian, akan memakan waktu cukup lama. Hal tersebut sesuai dengan Inpres Nomor 1 dan 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategis Nasional.

"Maksud dari percepatan itu kan berupaya untuk mempercepat, tapi tidak menyalahi aturan," kata dia.

Terkait bentuk ganti rugi lahan kepada perusahaan, kata Adeham, bentuknya disesuaikan permintaan masing-masing perusahaan. Ganti rugi bisa dalam bentuk uang, lahan, saham, atau bentuk lain sesuai kesepakatan.

"Tapi kalau tanah, sepertinya tidak mungkin, karena tanah tidak ada lagi. Selama ini, beberapa perusahaan ada yang minta ganti rugi dalam bentuk uang," jelasnya.

Adeham mengatakan, lahan sepajang 75 kilometer sudah dibebaskan saat pembangunan tol tahap pertama. Sepanjang 12 kilometer telah dirigid atau dibeton. Sementara, pada tahap kedua sudah 40 kilometer yang telah penetapan lokasi.

"Prosesnya tahap pertama pematokan, tahap kedua mendata, tahap ketiga konsultasi publik, tahap keempat mengukur, tahap kelima appraisal atau menilai. Jadi, ini belum selesai prosesnya karena belum selesai diukur oleh BPN dari 0 sampai 40,"pungkasnya.

 


(NIN)