2.000 TKA di Batam Rata-rata Duduki Posisi Penting

Anwar Sadat Guna    •    Jumat, 27 Apr 2018 19:12 WIB
tenaga kerja asing
2.000 TKA di Batam Rata-rata Duduki Posisi Penting
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal

Batam: Pulau Batam termasuk wilayah yang banyak didatangi tenaga kerja asing (TKA). Sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas, wilayah ini menampung sekitar 2.000 TKA dari berbagai negara.

Seluruh TKA tersebut bekerja di berbagai sektor industri yang ada di Batam. Umumnya, mereka menempati level jabatan penting manajemen yang belum bisa diisi oleh pekerja lokal.

"Hingga April 2018 ini ada sekitar 2.000 TKA yang bekerja di Batam. Jabatan mereka di posisi-posisi penting, direktur, GM (general manager), manager teknik, atau jabatan selevel supervisor dan lainnya," ujar Kepala Disnaker Batam, Rudi Sakyakirti kepada Medcom.id, Jumat, 27 April 2018.

Dia mengatakan, sejauh ini belum ada serbuan pekerja asing yang masuk di Batam. Ribuan TKA yang ada saat ini, kata Rudi, adalah tenaga kerja yang sudah lama bekerja di Batam.

"Belum ada serbuan karena sejauh ini tidak ada proyek-proyek berskala besar dari luar yang dikerjakan di Batam. Umumnya di tempat kita (Batam) adalah industri yang sudah lama ada dan tumbuh di Batam," ujarnya.

Sebelumnya, terdapat ribuan TKA bekerja di industri galangan kapal (shipyard) di Tanjunguncang, Kota Batam. Ketika banyak shipyard tutup akibat minimnya pesanan pembuatan kapal dari luar negeri, ungkap Rudi, banyak TKA yang pulang ke negara asalnya.

"Industri yang masih eksis saat ini umumnya industri manufaktur dan industri yang baru tumbuh, seperti industri digital, pariwisata, dan MRO," ujarnya.

Secara keseluruhan, sambung Rudi, tercatat ada sekitar 5.000 TKA di Pulau Batam. Namun, 5.000 TKA tersebut tidak seluruhnya tercatat bekerja di Batam, melainkan juga tercatat di pulau sekitar Batam.

"Ada yang hanya tingal di Batam, tetapi bekerja di kawasan industri logam di Pulau Bintan atau di Karimun. Yang benar-benar bekerja dan tinggal di Batam sebanyak 2.000 orang," tambahnya.

Tak ada pekerja kasar

Manager Admin and General Affair Batamindo, Tjaw Hioeng, mengatakan, ada sekitar 500 TKA yang bekerja di Kawasan Industri Batamindo. Mereka bekerja di berbagai perusahaan yang ada di kawasan industri tersebut.

"Seluruhnya bekerja di level top manajemen, seperti direktur, plant manager, general manager, quality manager, dan engineering manager. Tidak ada yang bekerja di bawah level tersebut," ujarnya.

Umumnya pekerja asing tersebut, sambung Tjaw, adalah perwakilan dari kantor pusat di Singapura. Para TKA menempati posisi top manajemen karena para pekerja lokal belum bisa mengisi jabatan tersebut.

"Banyak perusahaan di Batamindo ingin menempatkan pekerja lokal di posisi top manajemen namun kualitas dan kompetensi mereka dinilai belum memadai," kata Tjaw.

Kendala lainnya, tambah dia, perusahaan terkadang sulit mendapatkan pekerja lokal yang ahli di bidangnya. Tak heran, ada perusahaan yang menjalin kerja sama dengan universitas ternama di Indonesia, seperti Undip, UGM, dan lainnya agar bisa merekrut tenaga kerja ahli.

"Ini PR kita bersama bagaimana supaya tenaga-tenaga kerja lokal meningkatkan kompetensi dan keahliannya supaya mampu bersaing dengan TKA," ujarnya.

"Ada keuntungan yang bisa didapatkan perusahaan jika mempekerjakan tenaga kerja lokal di pososi strategis, di antaranya perusahaan tak perlu lagi mengeluarkan biaya US$100 tiap bulan karena mempekerjakan TKA," pungkasnya.


(SUR)