Sumatera Selatan Mulai Ekspor Belut ke Tiongkok

Dwi Apriani    •    Kamis, 09 Mar 2017 14:58 WIB
ekspor
Sumatera Selatan Mulai Ekspor Belut ke Tiongkok
Belut yang siap diekspor ke Tiongkok -- MI/Dwi Apriani

Metrotvnews.com, Palembang: Sumatera Selatan mulai melakukan ekspor belut (Monopterus Albus). Tujuan awal adalah Tiongkok, karena sudah tercipta pasar untuk perdagangan belut di negara tersebut.

"Belut sekarang ini cukup banyak dicari oleh negara luar, terlebih dari Tiongkok. Pengiriman belut ke Tiongkok sebenarnya sudah lama, tapi lewat pelabuhan di Lampung dan sebagainya. Bahkan, ada belut dari Sumsel tapi singgah dulu ke Lampung sebelum diekspor. Sekarang kita akan memulai ekspor belut langsung dari Palembang," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Selatan Sri Dewi Titi Sari di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis, 9 Maret 2017.

Menurut Sari, kekayaan sumber daya alam Sumsel cukup melimpah, termasuk dari sektor perikanan, baik darat dan laut. Sayangnya, selama ini hasil perikanan dari nelayan ataupun pengusaha UMKM (budi daya perikanan) dari Sumsel kerap dikirim ke luar Sumsel. Sehingga, jalur ekspor pun lebih banyak menggunakan daerah lain.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel Permana mengatakan, komoditas perikanan belut yang diekspor ini merupakan hasil tangkapan dari warga Sumsel yang tersebar di beberapa kabupaten/kota. Pemerintah sengaja ingin memunculkan nama Sumsel ini karena ingin menaikan `brand` daerah agar para investor perikanan menjadi tertarik menanamkan modal.

Menurut Permana, ekspor saat ini bukan persoalan lagi karena sudah bisa dilakukan dari Palembang. Maskapai penerbangan Garuda memiliki layanan cargo yang sangat terjangkau untuk kalangan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

"Layanan cargo ini ternyata murah. Setelah dihitung-hitung, ternyata UMKM pun dapat memanfaatkannya," kata dia.

Untuk diketahui, belut yang diekspor akan dikirim dalam kondisi hidup. Belut tersebut dibeli seharga Rp30 ribu sampai Rp35 ribu per kilogram dari petani atau pembudidaya belut di daerah, dengan usia panen tiga bulan. Sementara, harga ekspor ditetapkan Rp48 ribu per kilogram.


(NIN)