Ratusan Polisi Masih Berjaga di Lokasi Bentrok Tulang Bawang

Ahmad Novriwan, Wandi Yusuf    •    Senin, 03 Oct 2016 10:18 WIB
bentrokan
Ratusan Polisi Masih Berjaga di Lokasi Bentrok Tulang Bawang
Petugas memasang garis polisi di lokasi bentrok massa di Tulang Bawang, Lampung. (Metro TV)

Metrotvnews.com, Lampung: Puing-puing sisa kerusuhan tampak berserak di Jalan Lintas Timur Sumatera, tepatnya di Banjar Agung, Kecamatan Banjar Margo, Tulang Bawang, Lampung, Senin, 3 Oktober.

Ratusan personel polisi pun masih berjaga-jaga demi mencegah bentrok susulan antara massa dari Serikat Tani Korban Gusuran PT Bangun Nusa Indah Lampung (BNIL) dengan petugas pengamanan swakarsa.

Baca: Bentrok di Tulang Bawang, Belasan Kendaraan Terbakar

"Ratusan aparat kepolisian stand by mengantisipasi bentrok susulan," kata Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih, dikutip Media Indonesia.



Dia bilang, Polres Tulang Bawang telah menyiagakan 402 personel dibantu dua kompi Brimob, dua peleton Sabhara Polda Lampung, serta masing masing dua peleton dari Polres Mesuji dan Polres Lampung Tengah.

Kata Sulis, insiden Sabtu (1/10/2016) itu dipicu beberapa oknum anggota PAM swakarsa mendatangi tenda yang didirikan warga di lahan PT BNIL. Oknum PAM swakarsa itu diduga memprovokasi.

Warga marah. Buntutnya, ribuan masyarakat Kampung Agung Jaya serta Bujuk Agung mengamuk dan menyerang.

Belasan sepeda motor dan satu traktor dibakar massa. Tak terkecuali puluhan tenda juga ikut hangus. Sementara, satu mobil turut diamuk massa. Tak ada korban jiwa dalam insiden ini.

Sengketa lama

Ketua Walhi Lampung, Hendrawan, bilang, ada sekitar 2.000 petani yang mencoba menguasai lahan PT BNIL yang diklaim milik mereka. Sebelum bentrok, sebanyak 70 tenda dibangun di kawasan tanah sengketa itu.



Informasi Walhi, sengketa tanah di sana sudah mengemuka sejak 1999 saat masyarakat merasa lahannya diserobot PT BNIL. Walhi berupaya mengadvokasi kasus ini karena ada persoalan pelanggaran lingkungan yang dilakukan PT BNIL.

"Saat alih fungsi lahan dari perkebunan sawit ke tebu, PT BNIL tak melengkapinya dengan dokumen Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan), makanya kami perkarakan," kata dia.

Bahkan, PT BNIL sempat memanen hasil tebu sebelum akhirnya aktivitas di perkebunan itu ditutup setelah ada keputusan hukum. Lalu, kata Hendrawan, saat ini petani mempersoalkan kembali lahan yang menurut mereka direbut PT BNIL hingga akhirnya terjadi bentrokan.

"Percayakan kepada proses hukim. Kami nyakin persoalan yersebut dapat doselesaikan dengan baik jika dohadapi dengan fikiran yang baik. Tanpa provokasi dari pihak manapun," timpal Kapolda Lampung Brigjen Ike Edwin.


(SAN)