Dilarang Lihat Sidang, Keluarga Korban Pembunuhan Mengamuk

Farida Noris    •    Kamis, 08 Sep 2016 17:30 WIB
pembunuhan
Dilarang Lihat Sidang, Keluarga Korban Pembunuhan Mengamuk
?Keluarga SYD, 13, siswi SMP Barlind School, yang ditemukan tewas di perladangan Jalan Jamin Ginting, Medan, memprotes JPU karena tidak dibolehkan menyaksikan sidang. Foto: Metrotvnews.com/Farida

Metrotvnews.com, Medan: Keluarga dari SYD, 13, siswi SMP Barlind School yang ditemukan tewas di perladangan Jalan Jamin Ginting, Medan, mengamuk. Mereka mengejar-ngejar terdakwa FNRW, 16, usai menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Medan, Kamis 8 September 2016.

"Aku tak terima sama perbuatan dia. Biar pun dia anak-anak, tapi dia bunuh keponakanku," ucap Siherly, keluarga korban, di Pengadilan Negeri Medan.

Bahkan, mereka langsung mengejar terdakwa saat keluar dari ruang sidang. Keluarga korban menarik dan berusaha melayangkan tinju ke arah FNRW. Namun, pengawal tahanan lantas memboyongnya ke ruang tahanan sementara.

"Kejamnya dia (terdakwa) itu. Apalah salah anak kami. Dia (terdakwa) itu bukan anak-anak. Andailah keluarga mereka digitukan, dibunuh dan dicabuli, apa gak menangis orang tuanya itu," kata anggota keluarga korban lainnya.

Keluarga korban yang menunggu di luar sempat mengajukan protes kepada JPU Sindu. Mereka meminta agar dapat menyaksikan persidangan. Namun, jaksa tidak dapat memenuhi permintaan itu, sebab persidangan ini sudah diatur KUHAP. 

"Kami minta ditegakkan hukum. Anak kami ini yang korban, masih kecil lagi dia. Tolonglah pak Jaksa, biarkan kami masuk mengikuti sidang nantinya. Kalau dia (terdakwa) masih anak-anak, tak mungkin dia tega berbuat begini," urai paman korban.

Namun, permintaan itu ditolak JPU. Sebab, dalam sistem peradilan anak, sidang digelar tertutup untuk umum jika terdakwa masih di bawah umur. "Bapak minta supremasi hukum, tapi beginilah sistem peradilan anak," ucap JPU Sindu.

FNRW, 16, terdakwa pembunuhan SYD, 13, siswi SMP Barlind School Medan menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Medan, Kamis (8/9/2016). FNRW tak hanya menikami korban hingga sekarat, tapi juga mencabulinya.


(UWA)