Mantan Teroris Sebut Masih Banyak Calon "Pengantin" di Medan

Farida Noris    •    Rabu, 31 Aug 2016 22:36 WIB
bom bunuh diri
Mantan Teroris Sebut Masih Banyak Calon
Mantan narapidana terorisme, Khairul Ghazali. Foto: Metrotvnews.com/Farida

Metrotvnews.com, Medan: IAH bukanlah calon "pengantin" pertama yang berasal dari Medan, dan bukan pula yang terakhir. Mantan narapidana terorisme, Khairul Ghazali, memperkirakan masih banyak individu lain yang siap menyusul untuk melakukan bom bunuh diri.

"Masih banyak IAH-IAH lain yang siap menyusul untuk melakukan aksi teror yang sebenarnya sangat memalukan dan mencemarkan nama agama," kata Ghazali, Rabu (31/8/2016).

Menurut Ghazali, anak-anak muda belasan tahun yang disiapkan untuk menjadi calon “pengantin” seolah-olah antre menunggu. Artinya, Sumatera Utara rentan dengan aksi-aksi terorisme.

"Contohnya saya dulu, kita banyak mendoktrin orang, ada ratusan orang yang kita doktrin dengan paham radikal. Sekarang kita tidak tahu di mana saja mereka, sudah berpencar dan sekarang pasti sudah senior," ucap Ghazali menceritakan pengalamannya yang pernah menjadi pelaku.

Ghazali mengatakan di Medan sel-sel jihad sudah lama beraksi. Mulai dari Komando Jihad pada 1976, pembajakan Garuda Woyla (1981), peledakan gereja (2000), perampokan Bank Lippo (2003), perampokan bank Sumut (2009), perampokan bank CIMB (2010), dan penyerangan Polsek Hamparan Perak (2010).

"Semua kejadian ini menunjukkan sel-sel jihad di Medan aktif. Maka bohonglah kalau ada pejabat yang mengatakan Sumut kondusif dan aman dari terorisme. Jaringan teror ini kerap mendoktrin anak-anak muda. Karena mereka lebih mudah dicuci otaknya, sehingga dibuat siap untuk mati, bukan untuk hidup," ujar dia.

Bom Gereja yang gagal, menurut Ghazali, menunjukkan jihadis sudah bersarang di Medan. Karena Medan sebenarnya termasuk kantung-kantung jihad selain Solo dan Poso. Banyak jihadis Medan yang dicuci otaknya baik oleh pemain lama maupun oleh para ideolog baru yang terus berselancar di dunia maya dan dunia nyata.

"Percobaan bom gereja ini hanyalah salah satu aksi teror yang kecil dan dengan daya ledak yang kecil. Tetapi bagi para pelaku teror, tidak penting kecil atau besar, yang penting bagi mereka ialah teroris hadir di Sumut," bebernya.

Sebelumnya, percobaan bom bunuh diri terjadi di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansur Medan, Minggu 28 Agustus pagi. Ledakan yang diduga bom berkekuatan rendah itu terjadi sekitar pukul 08.20 WIB saat Pastor Albert Pandiangan, selesai membaca kitab suci. Saat itu tas ransel yang dibawa IAH meledak. Dia lantas menusuk lengan kiri Pastor Albert.


(UWA)