3 Anak Tumbang Terkena Gas Air Mata Saat Rusuh

Anwar Sadat Guna    •    Selasa, 08 Nov 2016 18:19 WIB
eksekusi rumah
3 Anak Tumbang Terkena Gas Air Mata Saat Rusuh
Seorang ibu menyelamatkan anaknya dari kepungan gas air mata yang ditembakkan polisi saat eksekusi lahan Bengkong Sadai, Batam, Selasa (8/11/2016). Foto-foto: Metrotvnews.com/Anwar

Metrotvnews.com, Batam: Tiga anak dilarikan ke rumah sakit karena terkena gas air mata saat eksekusi lahan di Bengkong Sadai, Batam, Selasa 8 November 2016. 

Pantauan di lokasi, seorang pemuda tiba-tiba keluar dari kawasan permukiman di Bengkong Sadai sembari menggendong erat tubuh anaknya. Pria itu berlari sambil meminta bantuan petugas medis dan ambulans. 

"Tolong, mana ambulans? Ambulans mana, Pak?" teriak pria tersebut. 

Wakapolresta Barelang AKBP Hengki yang melihat kejadian itu langsung memerintahkan anak buahnya mencari ambulans. Tak berapa lama ambulans milik TNI tiba di lokasi. 

Hanya berselang beberapa menit, dua warga lainnya muncul dan berlari berusaha menyelamatkan anak mereka dari kepungan gas air mata. Sembari menangis, seorang ibu mengecam tindakan aparat yang dinilainya represif terhadap warga. 

"Kalian main tembak saja. Seharusnya lihat kondisi dulu, apakah ada anak-anak atau tidak," teriak ibu itu ke arah petugas sembari berlari membawa anaknya ke mobil ambulans. 

Hengki yang melihat kejadian itu sempat meminta agar anak buahnya tak bertindak represif.



Upaya polisi mengawal eksekusi lahan di Bengkong Sadai mendapat perlawanan dari ribuan warga. Mereka melempari polisi menggunakan batu, kayu, dan botol. Warga juga melemparkan petasan ke arah petugas.

Polisi memukul mundur warga dengan menembakkan gas air mata di jalan masuk dan di dalam kawasan permukiman warga. Situasi sempat memanas karena massa merusak dan membakar empat rumah warga di Perumahan Glori Home yang bersebelahan dengan Kampung Harapan Swadaya. 

Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad sempat memantau eksekusi. "Kita berharap bentrokan dapat dihindari," ujarnya. 

Ketua Tim Terpadu Pemko Batam Syuzairi juga tampak di lokasi. Ia mengatakan eksekusi kali ini tak melibatkan tim terpadu. Eksekusi langsung dilakukan panitera pengadilan dan dikawal polisi bersama TNI karena ini merupakan keputusan pengadilan. 

"Kami hanya memantau. Tim terpadu tidak ikut dalam eksekusi ini," ujarnya. 

Setelah berjuang sekira dua jam, polisi akhirnya memukul mundur massa. Empat alat berat berhasil masuk untuk merobohkan ratusan bangunan liar yang berdiri di atas lahan itu.


(UWA)