Penghayat Kepercayaan di Sumsel Kerap Salah Dimengerti

Alwi Alim    •    Rabu, 15 Nov 2017 16:22 WIB
kepercayaan
Penghayat Kepercayaan di Sumsel Kerap Salah Dimengerti
Penghayat berbagai kepercayaan berfoto bersama sambil memegang KTP usai menjadi saksi pada sidang lanjutan uji undang-undang di Mahkamah Konstitusi, Jakarta. Foto: ANTARA/WIdodo S Jusuf

Palembang: Beraneka ragam kepercayaan ada di Sumatera Selatan. Namun, hal ini tak banyak diketahui masyarakat karena mereka masih minoritas dan tak banyak pengetahuan tentang penghayat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel Irene Camelyn Sinaga mengakui saat ini kebanyakan masyarakat belum tahu dan memahami penghayat itu berbeda artinya dengan penganut. Sehingga, penghayat dianggap suatu yang negatif.

"Penghayat kepercayaan pun tentunya percaya akan Tuhan Yang Maha Esa," katanya saat dihubungi Metrotvnews.com, Rabu, 15 November 2017.

(Baca: Ada 10 Juta Penghayat Kepercayaan di Indonesia)

Tak hanya itu, minimnya pengetahuan yang disebarkan tentang penghayat membuat warga berpandangan buruk. Penghayat pun menjadi takut mengakui identitasnya.

Ia mencontohkan penghayat Ogoh-ogoh. Pihaknya telah menyebarkan formulir untuk mendata penghayat ini. Namun, sampai saat ini para penghayat kepercayaan belum ada yang mengembalikan formulir karena menurutnya penghayat takut tentang penilaian masyarakat di Sumsel.

Karena itu ia berharap, ke depan masyarakat lebih menghargai dan menghormati penghayat kepercayaan. Karena, Indonesia menjamin kebebasan warganya memeluk kepercayaannya.

(Klik: Putusan MK soal Penghayat Kepercayaan di Mata Ulama)

"Penghayat ini berbeda dengan animisme dan penghayat sebenarnya dilindungi dalam UU nomor 29 tahun 1945," pungkasnya

Sementara itu, Humas Kemenag Sumsel, Saefudin mengakui sampai sejauh ini belum ada penghayat kepercayaan yang terdaftar di Sumsel.

"Kami tidak tahu jadi berapa banyak penghayat kepercayaan di Sumsel," singkatnya.


(SUR)