Sultan Mahmud Riayat Syah si 'Hantu Laut' Bergelar Pahlawan

Anwar Sadat Guna    •    Kamis, 09 Nov 2017 13:12 WIB
hari pahlawan
Sultan Mahmud Riayat Syah si 'Hantu Laut' Bergelar Pahlawan
Sultan Mahmud Syah. (Istimewa)

Metrotvnews.com, Batam: Kepulauan Riau memiliki satu lagi Pahlawan Nasional. Dia adalah Sultan Mahmud Riayat Syah atau dikenal dengan nama Sultan Mahmud Syah III. 

Sultan Mahmud Riayat Syah dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Rabu, 9 November 2017. Masyarakat Kepulauan Riau (Kepri), khususnya Kabupaten Lingga mengaku bersyukur atas penganugerahan Pahlawan Nasional kepada Raja Riau-Lingga itu. 

"Kami bersyukur karena perjuangan yang cukup panjang ini akhirnya membuahkan hasil. Kerja-kerja kita dirahmati Allah SWT dan doa masyarakat Kepri, khususnya Lingga dikabulkan Yang Maha Kuasa," kata Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, Muh Ishak kepada Metrotvnews.com.

Baca: Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada 4 Tokoh

Ishak mengatakan, ide untuk mengantarkan Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai Pahlawan Nasional muncul pada 2010. Kala itu, Ishak melontarkan ide tersebut dalam sebuah seminar lokal.

"Saya sampaikan bahwa, bagaimana mungkin Panglima Perang Kerajaan Riau-Lingga Raja Haji Fisabilillah sudah bergelar Pahlawan Nasional, sedangkan Rajanya belum? Dari situlah ide mengalir untuk mengantarkan Sultan Mahmud Syah sebagai pahlawan," ungkapnya. 

Gayung bersambut. Balai Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Tanjungpinang menggagas seminar tentang perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah melawan penjajah Belanda di wilayah Riau-Lingga termasuk Pahang hingga Johor (Malaysia). Wilayah kekuasaan Kerajaan Riau-Lingga kala itu mencakup Pahang dan Johor.

Baca: 4 Penerima Gelar Pahlawan Nasional

Selain seminar, kata Ishak, diskusi dan tulisan-tulisan tentang Sultan Mahmud Riayat Syah juga mulai bermunculan pada 2012. Seminar tentang Raja pertama Riau-Lingga itu semakin intens dilakukan. 

"Barulah pada 2013, Pemkab Lingga dan Pemprov Kepri mengajukan usulan penganugerahan Pahlawan Nasional kepada Sultan Mahmud Riayat Syah III ke pemerintah. Namun kala itu, pengajuan tersebut ditolak karena data dan dokumen yang disertakan belum lengkap," ungkap Ishak. 

Berburu Dokumen hingga ke Negeri Belanda

Pemkab Lingga tak patah arang, hal itu justru makin memacu Pemkab Lingga untuk mengumpulkan bahan, data, dan dokumen tentang Sultan Mahmud Riayat Syah. Salah satunya, menghimpun bahan dan data di beberapa acara seminar tentang Sultan Mahmud Riayat Syah yang menghadirkan sejarawan dan budayawan nasional. 

"Termasuk juga menghadirkan Guru Besar Universitas Indonesia (Ul) Prof Dr Susanto Zuhdi," kata Ishak. 

Nyat Kadir, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri menambahkan, untuk melengkapi data dan dokumen tentang Sultan Mahmud Riayat Syah, Pemprov Kepri sampai berburu dokumen ke Belanda. 

Dokumen yang dicari, kata Nyat, di antaranya; sejarah tentang pertempuran Kerajaan Riau-Lingga dengan VOC Belanda, siapa itu Sultan Mahmud Riayat Syah, dan wilayah kekuasaan Raja Riau-Lingga. 

"Selain itu, buku sejarah Kerajaan Riau-Lingga berjudul Tuhfat A-Nafis karya Raja Ali Haji dan buku berjudul Salatussaladin menjadi referensi untuk mengantar Sultan Mahmud Syah III sebagai Pahlawan Nasional," kata Nyat saat ditemui Metrotvnews.com di rumahnya di Tiban 1, Kota Batam, Rabu, 8 November 2017.

Data pendukung lainnnya yang berhasil didapatkan Pemkab Lingga yakni pengakuan VOC Belanda terhadap keberanian Sultan Mahmud Riayat Syah berperang di laut. "Data tersebut ditemukan dalam dokumen yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)," tambah Ishak, yang juga Ketua LAM Kabupaten Lingga. 

Nyat menuturkan, Sultan Mahmud Syah III dikenal sebagai pejuang yang pantang menyerah melawan penjajah Belanda. Ia bahkan satu-satunya pejuang yang punya kemampuan bertempur dan bergerilya di laut. "Sosoknya sangat disegani dan ditakuti dalam pertempuran di laut," ungkap Nyat. 

Nyat Kadir, Ketua LAM Provinsi Kepri saat ditemui di kediamannya di Tiban 1, Kota Batam, Provinsi Kepri, Rabu, 8 November 2017 

Anggota Komisi VI DPR RI ini menambahkan, dalam sebuah pertempuran melawan Belanda pada tahun 1784, pasukan Kerajaan Riau-Lingga yang dipimpin panglimanya Raja Haji Fisabilillah berhasil menenggelamkan kapal perang Belanda. 

"Dalam peristiwa itu, sekira 800 tentara VOC Belanda tewas. Ini merupakan pertempuran bersejarah Kerajaan Riau-Lingga. Peristiwa itu terjadi pada 6 Januari 1784," jelasnya. 

"Tanggal itulah yang kemudian dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Tanjungpinang karena pertempuran tersebut berada di wilayah sekitar perairan Tanjungpinang, Pulau Bintan," tambah Nyat. Pertempuran dengan VOC Belanda terus berlanjut hingga tahun 1785 - 1787. 

Semasa kepemimpinannya, sambung Nyat, Sultan Mahmud Riayat Syah tak mau sedikitpun memberikan sejengkal wilayah kepada VOC Belanda. Meski VOC sempat membangun benteng di Tanjungpinang, namun berkat kemampuan pasukan Kerajaan Riau-Lingga dan dibantu pasukan Kerajaan Mempawah (Kalbar), benteng tersebut berhasil diledakkan. 

Hingga akhirnya, setelah pertempuran itu, sambung Nyat, Sultan Mahmud Syah III memindahkan pusat kerajaannya dari Hulu Riau, Pulau Bintan, ke Kabupaten Lingga. 

"Sultan Mahmud Riayat Syah punya alasan memindahkan pusat kerajaan di Lingga, karena wilayah tersebut tidak mudah dimasuki Belanda. Terdapat ratusan pulau di sekeliling pusat kerajaan Riau-Lingga tersebut. Terlebih pulau-pulau tersebut telah dihuni oleh lanun (warga suku laut) yang sangat hormat dan setia kepada Sultan Mahmud Riayat Syah.

Pada masa pemerintahannya di Kerajaan Riau-Lingga, Lingga dirintis menjadi pusat tamaddun Melayu. Di antaranya menggalakan dunia tulis, seperti mengarang dalam kitab-kitab ajaran agama Islam dan bahasa (sastra) Melayu. Kelak, bahasa Melayu menjadi cikal bakal bahasa pemersatu nusantara, yakni bahasa Indonesia yang digunakan sekarang ini.

Sekadar diketahui, Mahmud Riayat Syah sudah diangkat sebagai sultan sejak usianya baru 2 tahun. Sepanjang hidupnya dicurahkan menimba ilmu, belajar dan berlatih strategi perang, dan mulai turun di medan perang saat usianya beranjak dewasa. 

Hingga akhir hayatnya, Sultan Mahmud Riayat Syah banyak menghabiskan waktunya di Kerajaan Riau-Lingga yang dibangunnya. "Sultan Mahmud Syah III atau juga dikenal Sultan Mahmud Riayat Syah wafat pada tahun 1812. Ia dimakamkan di Daik, Kabupaten Lingga, tepatnya di belakang Masjid Sultan Lingga," kata Ishak. 

Selain, Sultan Mahmud Riayat Syah, Kepri juga telah memiliki dua nama besar pahlawan nasional, yakni Raja Ali Haji dan Raja Haji Fisabilillah.




(ALB)