Kesehatan Bayi Sahira-Fahira Stabil

Farida Noris    •    Jumat, 27 Oct 2017 13:27 WIB
kembar siam
Kesehatan Bayi Sahira-Fahira Stabil
Tim medis RSUP H Adam Malik Medan melihat kondisi bayi Sahira-Fahira pasca operasi pemisahan

Metrotvnews.com, Medan: Tim medis RSUP H Adam Malik Medan menyatakan kondisi kesehatan bayi Sahira- Fahira berangsur optimal. Kondisi ini menandakan suksesnya operasi pemisahan yang dilakukan oleh tim khusus pada Senin 16 Oktober 2017.

"Pasca menjalani operasi pemisahan, kondisi bayi Sahira-Fahira telah stabil," kata Ketua Tim Khusus Penanganan Bayi Sahira - Fahira, Prof dr Guslihan Tjipta, Jumat 27 Oktober 2017.

Dia menyebutkan bayi kembar siam asal Kota Kisaran bernama Sahira Afrizi dan Fahira Afriza ini akhirnya melewati masa kritis. Kedua bayi perempuan ini masih tetap dirawat secara intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

"Hal ini dikarenakan tim medis masih tetap harus memantau perkembangan kesehatan keduanya setiap waktu, terutama Sahira, yang memiliki kelainan jantung bawaan," terangnya.

Bayi dari pasangan Kadarusman dan Agustina yang lahir pada 24 Maret 2017 itu, masih mendapat asupan gizi dengan bantuan alat nasro gastric tube (NGT) melalui hidung, yang akan dipasok langsung ke lambung.

"Untuk bayi Sahira, tim medis tetap memberikan obat-obatan khusus jantung dan akan dipantau terus perkembangannya," jelas Prof dr Guslihan Tjipta.

Meski telah dinyatakan stabil, tim medis belum bisa memastikan kapan bayi Sahira dan Fahira diizinkan untuk dipulangkan. Tim medis berharap, hemodinamik atau sistem aliran darah di tubuh kedua bayi dapat berjalan dengan baik.

"Sehingga nantinya Sahira dan Fahira dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Jadi tim medis masih harus memantau perkembangannya," ucapnya.

Sebelumnya operasi pemisahan bayi kembar siam ini melibatkan tim khusus yang terdiri dari 56 tenaga medis. Untuk penanganan bayi dengan kondisi dempet di dada dan perut tersebut, seluruh rangkaian proses operasi melibatkan dokter ahli bedah anak, ahli bedah plastik, ahli bedah jantung, ahli bedah saluran cerna, ahli anestesi anak, ahli anestesi jantung, serta tenaga keperawatan terampil.

Proses operasi juga tergolong cukup sulit, sebab diketahui salah satu bayi, yaitu Sahira menderita kelainan jantung bawaan yang bisa mengakibatkan gagal jantung. Adapun teknik operasi yang dilakukan, yakni dengan operasi pemisahan, tanpa menunggu kulit cadangan dari tissue expander untuk menutup bekas luka dari operasi.



(ALB)