Terpidana Mati Kasus Narkoba Dijatuhi Vonis Nihil

Farida Noris    •    Selasa, 10 Oct 2017 20:40 WIB
narkoba
Terpidana Mati Kasus Narkoba Dijatuhi Vonis Nihil
Ilustrasi. MTVN/M Rizal

Metrotvnews.com, Medan: Ayau (41), terpidana mati kasus pengiriman 270 Kg sabu-sabu dijatuhi vonis nihil. Bandar narkotika jaringan internasional ini dianggap terbukti bersalah mengendalikan peredaran 10 Kg sabu dari Lapas Tanjung Gusta Medan.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Ayau dengan pidana nihil. Menetapkan terdakwa harus berada dalam tahanan," ucap majelis hakim yang diketuai Ahmad Sayuti dalam sidang beragenda putusan di Pengadilan Negeri Medan, Selasa 10 Oktober 2017 malam.

Vonis nihil berarti Ayau tidak menerima hukuman badan atau penjara atas perkara yang disidangkan. Hakim mempertimbangkan seorang terdakwa yang sebelumnya telah mendapat vonis mati pada kasus sebelumnya, tidak mungkin mendapat vonis hukuman yang sama dalam perkara.

"Terdakwa harus dinyatakan bersalah. Tetapi karena terdakwa sudah dijatuhi hukuman mati yang merupakan hukuman tertinggi, maka tidak dapat lagi dijatuhi hukuman," ujar hakim.

Majelis hakim menyatakan terdakwa Ayau telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah tanpa hak atau melawan hukum melakukan permufakatan jahat untuk menerima narkotika golongan 1 dengan berat lebih dari 5 gram sebagaimana dalam Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Hal-hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan akibat perbuatan terdakwa memperluas penyalahgunaan narkotika. "Selain itu, Ayau sudah pernah dihukum mati juga dalam kasus narkoba dan tidak belajar dari perbuatan sebelumnya," hakim membacakan pertimbangan perkara Ayau.

Usai pembacaan vonis itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sindu Hutomo menyatakan akan mengajukan banding. Sebab, jaksa menuntut Ayau dijatuhi hukuman.

"Kita akan banding. Karena hakim mengesampingkan bukti-bukti dan fakta persidangan serta apa yang kita sampaikan selama proses sidang berlangsung," ucap Sindu usai sidang.

Sementara itu, Amri selaku penasehat hukum Ayau menyatakan menerima putusan majelis hakim dan sudah sepantas hukuman itu diberikan karena terdakwa sudah dihukum mati dalam persidangan di Pengadilan Negeri Medan beberapa waktu lalu.

"Terlebih dalam kasus ini Ayau tidak pernah mengajukan banding atau kasasi terhadap proses hukumnya.
Seharusnya, apabila sudah dihukum mati maka pihak Kejagung sudah melakukan eksekusi akan tetapi sampai saat ini belum dilakukan," ungkap Amri.

Ayau yang merupakan bandar narkotika jaringan internasional, terbelit beberapa kasus penyeludupan narkotika. Ayau sebelumnya merupakan seorang di antara 4 terpidana mati dalam kasus pengiriman 270 Kg sabu-sabu pada Rabu 22 Juni 2016. Putusan itu telah berkekuatan hukum tetap.

Ternyata saat mendekam di Lapas Tanjung Gusta, laki-laki berkacamata ini kembali mengatur pengiriman 10 Kg sabu-sabu. Bukan hanya dia, tiga terdakwa perkara narkotika lain yakni Hartono, Andy Vun dan Stevy Harto, di Lapas Tanjung Gusta juga terlibat dalam kejahatan ini. Ketiganya sudah dijatuhi hukuman masing-masing 20 tahun penjara dalam persidangan yang digelar pekan lalu.


(SUR)