Jelang Akhir Tahun, Bea Cukai Batam Perketat Penjagaan

Anwar Sadat Guna    •    Rabu, 29 Nov 2017 15:34 WIB
narkoba
Jelang Akhir Tahun, Bea Cukai Batam Perketat Penjagaan
Ilustrasi. Metrotvnews.com

Batam: Antisipasi maraknya peredaran narkotika jelang akhir 2017, petugas Bea Cukai Batam meningkatkan pengamanan di pintu-pintu masuk Pulau Batam. Pelabuhan dan Bandara Internasional Hang Nadim Batam menjadi pintu masuk yang dijaga ketat.  

"Biasanya, menjelang akhir tahun, tingkat peredaran narkotika meningkat. Itu seiring dengan meningkatnya pesanan menyambut perayaan pergantian tahun," ungkap Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Batam, R Evy Suhartantyo kepada Medcom.id, Rabu, 29 November 2017. 

Meningkatnya peredaran narkotika di Batam, kata Evy, mulai terasa dalam beberapa pekan terakhir. Petugas Bea Cukai berhasil mengungkap penyelundupan dan peredaran narkoba asal Malaysia. 

"Narkotika jenis sabu tersebut ada yang masuk melalui pelabuhan resmi dan pelabuhan ilegal, atau pelabuhan tikus. Sabu itu umumnya dibawa oleh TKI ilegal, selanjutnya akan dibawa keluar melalui Bandara Hang Nadim Batam," ungkap Evy. 

Dalam sepekan terakhir, petugas Bea Cukai Batam menangkap empat WNI yang hendak membawa sabu keluar dari Batam. Keempatnya ditangkap di Bandara Hang Nadim Batam. Hasil pemeriksaan, keempatnya adalah kurir narkiba dan pernah menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

"Kamis pekan lalu kami menangkap Sugito dan Kuswanto. Mereka baru saja tiba dari Malaysia. Keduanya ditangkap petugas Bea Cukai bandara saat membawa 2,9 kg sabu," ujarnya. 

Selang empat hari kemudian, tepatnya Minggu, 26 November, Bea Cukai menangkap calon penumpang Lion Air, Amiruddin. Dia ditangkap saat menyembunyikan paket sabu seberat 401 gram di sepatunya. Amiruddin akan membawa sabu ke Surabaya. 

Sehari setelahnya, atau Senin, 27 November 2017, petugas Bea Cukai Batam kembali menangkap seorang calon penumpang, Muhammad Zubir. Pria ini ditangkap saat membawa 508 gram sabu. "Modusnya sama, paket sabu disembunyikan di dalam sepatu untuk mengelabui petugas," ungkap Evy.

Pengawasan di pelabuhan, terutama bandara, tegas Evy, harus diperketat. Karena hanya Bandara Hang Nadim Batam yang menyiagakan Custom Excise atau petugas Bea Cukai untuk pemeriksaan penumpang. 

"Sedangkan di bandara lain, seperti Cengkareng dan Surabaya nggak ada customs excise. Artinya, kalau narkotika ini lolos dari Bandara Hang Nadim Batam, maka otomatis akan lolos juga di dua bandara tersebut," jelasnya. 

Beruntung, selain menyiagakan petugas Bea Cukai untuk pemeriksaan di Bandara Hang Nadim, kemampuan para petugas juga terus diasah. "Terutama insting mereka agar dapat mempelajari gerak-gerik para penumpang. Jika ada yang mencurigakan maka patut diperiksa," paparnya. 

Saat ini, Pelabuhan Internasional Batam Centre masih penyumbang terbesar masuknya sabu asal Malaysia. Setelah itu Pelabuhan Internasional Harbour Bay. Sedangkan pintu keluarnya adalah Bandara Hang Nadim Batam. 

"Pelabuhan Batam Centre menyumbang 90 persen masuknya narkotika di Batam. Sedangkan Harbour Bay sekira 10 persen. 

Humas Bea Cukai Batam Frans Samuel menambahkan, sabu yang masuk di Batam didominasi sabu dari Malaysia yang dibawa oleh kurir sindikat internasional. 

Sekadar perbandingan, kata Frans, tahun lalu Bea Cukai Batam menegah atau mengungkap 66 kasus narkotika di Batam. Adapun tahun ini, sejak Januari hingga November 2017 sudah ada 26 kasus narkotika yang ditegah. 



(ALB)