Tiga Wilayah di Riau Terancam Alami Kekeringan

Anwar Sadat Guna    •    Rabu, 06 Sep 2017 18:35 WIB
kemarau dan kekeringan
Tiga Wilayah di Riau Terancam Alami Kekeringan
Ilsutrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Pekanbaru: Pemprov Riau mengintensifkan patroli darat untuk memantau wilayah maupun kawasan-kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun ancaman kekeringat di musim kemarau saat ini. 

"Meski saat ini tidak ditemukan ada titik api, namun kami tetap mengantisipasi dengan intensif melakukan patroli. Kami juga memantau jika ada daerah yang rawan mengalami kekeringan. Tetapi sejauh ini belum ada," ungkap Kabid Perubahan Iklim dan Karhutla, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Riau, Ervin kepada Metrotvnews.com, Rabu, 6 September 2017. 

Diungkapkan Ervin, dari sekian wilayah kota/kabupaten di Provinsi Riau, terdapat tiga kabupaten dengan tingkat titik api atau hot spot (titik panas) yang cukup tinggi yakni; Kabupaten Meranti, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), dan Pelalawan. Dengan tingginya titik panas di wilayah ini, dapat memicu terjadinya kekeringan sehingga karhutla mudah terjadi. 

"Selain wilayah lain, kami juga terus memantau Kabupaten Meranti, Rohil, dan Pelalawan agar jangan sampai mengalami kekeringan karena tingginya hot spot di wilayah tersebut. Sesuai data yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, karhutla di Riau sepanjang Januari hingga September seluas 1.033 hektare. 

Adapun luas lahan dan hutan yang terbakar di Kabupaten Meranti, 300-400 hektare, Rohil 200 hektare, dan Pelalawan 100-200 hektare. Pelaksana Harian (Plh) BPBD Riau, Zim Gafur, mengatakan, sejauh ini belum ada wilayah di Riau mengalami kekeringan meski saat ini musim kemarau. 

"Sejauh ini belum ada data dan laporan ada daerah mengalami kekeringan. Meski kemarau, kita masih terbantu oleh hujan yang beberapa kali turun di bulan Agustus dan awal September ini," kata Zim Gafur.

Gafur mengatakan, meski wilayah Riau 60 persen merupakan lahan gambut tetapi lahan-lahan di daerah umumnya merupakan areal perkebunan sawit dan karet. Lahan-lahan perkebunan tersebut produktif yang dikelola oleh perusahaan dan petani. 

"Kemarau tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2015, kemarau sangat terasa karena elnino dan lanina. Pada 2016, boleh disebut sebagai kemarau basah. Artinya kemarau tetap ada tetapi hujan juga masih turun," ujarnya. 

Pada tahun 2017 ini, sambung Gafur, kondisi cuacanya terbilang normal. Merujuk prakiraan BMKG, kata dia, kemarau tetap ada tetapi juga disertai dengan hujan dengan intensitas sedang dan tinggi. 

"Kemarau tetap ada tetapi sejauh ini wilayah-wilayah tidak mengalami kekeringan. Kami juga terus melakukan patroli untuk memantau situasi di wilayah," jelasnya.



(ALB)