Kisah Penderita HIV, Dulu 'Liar' Kini Jadi Pemantik Semangat ODHA

Farida Noris    •    Rabu, 30 Nov 2016 22:05 WIB
hari aids
Kisah Penderita HIV, Dulu 'Liar' Kini Jadi Pemantik Semangat ODHA
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar menyalakan lilin memperingati hari AIDS Sedunia tahun lalu. Foto: Antara/Abriawan Abhe

Metrotvnews.com, Medan: H, 42, tak pernah menyangka akan mengidap HIV (Human Immunodeficiency Virus). Sempat terpuruk dengan kondisinya, kini ia fokus dan aktif mendampingi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) agar bisa bangkit. 

"Kehidupan aku dulu liar, suka mabuk. Kalau sudah begini, aku pasti selalu mencari perempuan untuk memenuhi kebutuhan seks," ujar dia, membuka pembicaraan, Rabu (30/11/2016).

H terinfeksi HIV melalui hubungan seksual. Dia sudah bercinta dengan banyak perempuan sejak 1993. Saking banyaknya, dia tak tahu berapa yang sudah ditiduri.

"Waktu itu saya dan teman kantor sedang bertugas ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaan. Dan kami pun menginap di salah satu penginapan yang ternama di salah satu daerah di Sumatera Utara,” ujarnya.

Di saat hendak menyewa penginapan, teman H, sebut saja A memesan dua kamar untuk mereka. Namun, H merasa dijebak. Ketika terlelap, ia disadarkan perempuan yang telah ada di sampingnya.

"Saya merasa dijebak. Saya tidak tahu siapa orang itu. Saat saya bertanya siapa yang mengizinkan masuk, perempuan itu pun mengatakan bahwa teman saya yang menyuruhnya," kata dia.

Seakan sudah kecanduan, H mulai mabuk-mabukan dan selalu berakhir dengan mencari perempuan untuk dijadikan pelampiasan.

"Kalau dulu, pertama kali melakukan ini, saya dijebak. Tapi setelah itu, saya ketagihan,” kata dia.


Ilustrasi. Foto: Antara/Fanny Octavianus

Pada 2007, H jatuh sakit. Sekujur tubuhnya panas tinggi tiga hari. Lalu ia berobat ke klinik, minum obat yang sudah diresepkan dokter. Ia pun sembuh. Namun, itu tak berlangsung lama. Dua hari berlalu, penyakitnya kembali kambuh. Kali ini semakin parah. Bahkan suhu tubuhnya semakin tinggi diiringi diare.

“Nafsu makan hilang, badan jadi kurus. Saya diperiksa dokter dan dinyatakan gejala tifus. Namun, ini terus berulang. Hingga dokter curiga dengan penyakit yang saya alami,” kata dia.

Akhirnya, dokter pun menyarankan H dibawa ke salah satu rumah sakit yang ada di Kota Medan untuk menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan.

"Setelah diperiksa, dokter memanggil istri dan kakak saya. Tidak tahu persis apa yang mereka bicarakan. Ketika mereka keluar dari ruang dokter, saya lihat mereka menangis," urainya. 

Pernyataan yang keluar dari istri dan kakaknya membuat H merasakan disambar petir. H hanya bisa menangis dan pasrah setelah tahu mengidap HIV/AIDS.

"Hancur semua kurasakan. Hancur keluarga dan hancur pekerjaan. Saya lalu dirujuk ke RS Adam Malik," katanya.


Mahasiswa Universitas Syiah Kuala membawa boneka saat menggelar aksi memperingati Hari AIDS Sedunia di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Selasa (1/12/2015). Foto: Antara/Ampelsa

Saat tiba di rumah sakit milik Kementerian Kesehatan itu, H mendapat pemeriksaan awal di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kemudian, ia dirawat di Ruang Rindu A. Di satu ruangan itu, ada 25 orang yang sama mengidap HIV. 

"Setiap harinya ada yang mati, saya takut dan hanya bisa pasrah menunggu giliran kapan saya akan dipanggil. Saya juga sudah membagi-bagi tiga anak saya untuk dirawat keluarga. Saya meminta istri, jika ingin bercerai, saya siap. Tapi, dia tidak mau diceraikan. Dia juga siap menerima semuanya dan menganggap ini adalah cobaan yang harus dilalui,” kata dia.

Seminggu dirawat, salah seorang pendamping pengidap HIV/AIDS dari LSM MedanPlus datang dan membantu H agar bisa melewati masa-masa kritis itu.

“Akhirnya, semangat saya bangkit setelah banyaknya dukungan dari LSM, istri, anak, dan keluarga. Tadinya saya menganggap umur saya tidak akan panjang. Setelah 50 hari dirawat, saya pun diperbolehkan pulang,” tuturnya.

Sesampainya di rumah, tetangganya tak nyaman. Keluarganya sempat akan diusir dari kampung itu.

“Saya mau pindah dari kampung itu, asalkan ada yang mau membeli rumah saya.Tapi, tidak ada yang mau membeli,” jawabnya.

Lambat laun, semua berlalu. “Kini mereka sudah mau main ke rumah. Makan bersama keluarga kami. Saya ingin semua orang tahu, bahwa penderita HIV/AIDS ini bisa 'sehat'," ucapnya.

Kini, H fokus dan aktif mendampingi ODHA. Dia juga terus menyosialisasikan bahaya HIV/AIDS agar angka pengidap bisa ditekan.

"Setia pada pasangan merupakan hal yang mendasar di samping mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya berpesan, bagi pengidap yang sudah tahu statusnya, agar meminum obat secara teratur. Bagi yang belum tahu status, ada baiknya memeriksanya lebih lanjut. Dan jika terbukti, bisa segera diatasi," ujar dia.

 


(UWA)