Mengintip Pesantren Anak Teroris di Deli Serdang

Farida Noris    •    Minggu, 04 Sep 2016 16:00 WIB
pesantren
Mengintip Pesantren Anak Teroris di Deli Serdang
Bocah-bocah dari orangtua teroris menjalani pendidikan di Pesantren Darusy Syifaa. (Foto-foto: Metrotvnews.com/Farida Noris)

Metrotvnews.com, Medan: Pesantren anak- anak teroris, mungkin masih terdengar asing di masyarakat, bahkan ada yang bergidik bila mendengarnya.

Ya, Pesantren Darusy Syifaa yang ada di Dusun IV, Desa Sei Mencirim, Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatera Utara ini, memang menampung anak-anak teroris. 

Namun, keberadaanya bukan untuk mendidik santri agar bertindak radikal. Sebaliknya, pesantren ini justru melakukan deradikalisasi dan rehabilitasi teroris. Mereka yang menempuh pendidikan di Pesantren Darusy Syifaa terbentengi dari paham kekerasan dan terorisme.

"Pesantren ini didirikan memang untuk menampung anak-anak teroris. Orangtua mereka ada yang sudah meninggal, ada yang masih menjalani masa penahanan, dan ada pula yang sudah bebas," ucap Khoirul Ghazali alias Abu Ahmad Yasin, 50, pendiri Pesantren Darusy Syifaa, Minggu (4/9/2016).

Ghazali mendirikan pesantren ini bukan tanpa sebab. Dia merupakan mantan narapidana perkara terorisme. Pria berkacamata ini dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena terlibat perampokan bank di Jalan Aksara, Medan, yang pada Agustus 2010. Namun setelah menjalani hukuman penjara empat tahun dua bulan, Ghazali mendapat pembebasan bersyarat.

Diasingkan masyarakat

Selepas menghirup udara bebas, kenyataan pahit harus dihadapinya. Ghazali melihat anak-anak teroris justru dikucilkan di lingkungan mereka.

Kebanyakan dari anak-anak teroris ini juga tidak melanjutkan pendidikan karena terganjal biaya. Akhirnya, tepat pada 16 Januari 2016, Pesantren Darusy Syifaa berdiri di atas lahan seluas 7.000 meter.


Khoirul Ghazali alias Abu Ahmad Yasin.

"Mereka terasing di masyarakat, karena orangtuanya memiliki catatan pernah terlibat aksi terorisme. Saya takut anak-anak ini mengikuti langkah orangtuanya, terlibat jaringan teroris," urai Ghazali yang mengklaim lembaga ini yang pertama dan satu-satunya ada di Indonesia.

Pusat Deradikalisasi

Awalnya, kata Ghazali, cukup sulit mengubah paradigma anak-anak para teroris yang menjadi santrinya. Mereka sangat membenci polisi. Namun, seiring berjalannya waktu, sikap itu berubah. Di pesantren inilah mereka diajarkan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin bukan agama yang mengajarkan kebencian dan kekerasan.

"Kita ajarkan Islam yang sebenarnya. Islam agama penolong. Kita juga ajarkan bagaimana jihad yang sebenarnya. Islam tidak mengajarkan kekerasan," tutur Ghazali.

Kini, ada sekitar 20 santri dari usia 10- 22 tahun yang menempuh pendidikan di pesantren ini. Satu orang di antaranya adalah perempuan. Santrinya berasal dari Kota Tanjungbalai, Stabat, Hamparan Perak hingga Aceh.


Santri anak-anak teroris menjalani pembelajaran agama dan deradikalisasi.

Pesantren yang berada di sekitar kebun jagung itu belum memiliki banyak bangunan. Baru ada satu rumah sekaligus kantor pesantren, musala, rumah kecil semipermanen yang dijadikan tempat tinggal santri, dan tiga pondok beratap rumbia yang digunakan untuk belajar.

"Pesantren ini akan dikembangkan menjadi pusat rehabilitasi dan deradikalisasi. Rencananya anak-anak mantan teroris yang dari luar Sumatera Utara juga akan dibawa ke sini," beber Ghazali.


(SAN)