Sepuluh WNA Diduga Gigolo Dibekuk di Batam

Anwar Sadat Guna    •    Kamis, 08 Sep 2016 18:40 WIB
prostitusi
Sepuluh WNA Diduga Gigolo Dibekuk di Batam
Seorang imigran yang dibekuk di Batam, MTVN - Anwar Sadat Guna

Metrotvnews.com, Batam: Kepolisian Batam, Kepulauan Riau, memeriksa 10 warga negara asing (WNA) yang terlibat aktivitas prostitusi di kota tersebut. Mereka diduga berprofesi sebagai gigolo sejak enam bulan hingga setahun lalu.

Kamis 8 September, petugas mengamankan sepuluh imigran di beberapa tempat kebugaran di Batam. Petugas menduga mereka menjajakan diri sebagai laki-laki bayaran.

Petugas juga mengamankan seorang warga Indonesia berinisial R, 35. R bertugas mengelola dan 'menjual' imigran-imigran itu.

"Polisi memeriksa saksi, korban, dan R merupakan mucikari," kata Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi (Wasdakim) Batam Oki Drajad di ruang kerjanya.

Saat ini, lanjut Oki, para imigran dititipkan di Rumah Detensi Kantor Imigrasi Batam di Batam Centre. Bila terbukti melakukan kegiatan prostitusi, Oki mengatakan mereka akan ditahan kepolisian dan menjalani proses hukum di Indonesia.

"Kasusnya masih terus kami kembangkan bersama kepolisian," ujarnya. 

Sepuluh imigran itu dibekuk dari sebuah lokasi di Hotel Kolekta Batam. Mereka leluasa keluar masuk di lokasi penampungan, hingga akhirnya satu per satu terlibat dalam aktivitas prostitusi di Batam. 

Para imigran ini, kata Oki, beraksi di beberapa pusat kebugaran di kawasan Nagoya dan Jodoh. 

"Dari pengakuan para imigran ini, mereka sudah melakukan kegiatan prostitusi itu selama 6 bulan sampai 1 tahun terakhir," jelas Oki. 

Terungkapnya kejadian ini mengejutkan banyak pihak. Sebab imigran yang ditampung di Hotel Kolekta Batam berada dalam penanganan dan perhatian Pemko Batam dan International Organitation of Migrasi (IOM).

Ketua Garda Indonesia Aldi Braga P mendesak Pemko Batam, Imigrasi, kepolisian dan jajaran terkait agar segera bertindak agar aktivitas prostitusi yang melibatkan imigran tidak semakin meluas. Jika hal ini dibiarkan, akan menimbulkan dampak negatif, tidak hanya bagi daerah tetapi bagi masyarakat sekitar. 

"Kami melihat, pengawasan pemerintah daerah terhadap imigran masih sangat lemah. Imigran yang ada di Batam saat ini bebas berkeliaran tanpa ada pihak yang melakukan pengawasan," tegasnya. 
Di Batam, lebih 400 warga asing ditampung. Selain Hotel Kolekta, warga imigran juga ditampung di Taman Aspirasi Batam. 


(RRN)