Korupsi Dana Peta Titik Rawan Dirut PT Pemetar Argeo Dibui 2 Tahun

Farida Noris    •    Selasa, 06 Sep 2016 19:17 WIB
kasus korupsi
Korupsi Dana Peta Titik Rawan Dirut PT Pemetar Argeo Dibui 2 Tahun
Ilustrasi

Metrotvnews.com, Medan: Majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan menjatuhkan hukuman dua tahun penjara terhadap Fendy Sebayang, direktur utama (dirut) PT Pemetar Argeo Consultant Enginering. 

Dia terbukti bersalah mengorupsi dana proyek pembuatan peta titik rawan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut di Kabupaten Karo, Dairi, dan Pakpak Bharat, tahun anggaran 2012 sebesar Rp1,68 miliar.

"Menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. Menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun, denda Rp50 juta subsider 1 bulan kurungan," ungkap majelis hakim yang diketuai Parlindungan Sinaga di Ruang Cakra VII Pengadilan Tipikor Medan, Selasa (6/9/2016). 

Majelis hakim juga mewajibkan terdakwa agar membayar uang pengganti (UP) kerugian negara Rp784 juta subsider 2 bulan penjara. Namun, Fendi sudah menitipkan uang Rp500 juta ke kejaksaan.

Terdakwa Fendi Sebayang dianggap ?majelis hakim melanggar Pasal 3 ayat (1) jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan JPU yang menuntut terdakwa 3 tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan.

Dalam kasus ini, dua eks pejabat BPBD Sumut masing-masing Aris Fadillah Acheen selaku mantan Kepala Sub Bidang Kesiapsiagaan BPBD Sumut sekaligus Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), dan Zaenal Arifin selaku mantan ketua panitia Pengadaan, telah dihukum oleh majelis hakim masing-masing 1 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan. 

Pembuatan peta titik rawan bencana di Kabupaten Karo, Dairi, dan Pakpak Bharat tahun 2012 memakai anggaran BPBD Sumut dengan pagu Rp1,68 Miliar. Pembuatan peta titik rawan itu seharusnya dikerjakan belasan tenaga ahli. Namun, oleh terdakwa proyek itu hanya dikerjakan tujuh ahli. 

Sisa dana yang tak dipakai dalam proyek tersebut dikorupsi ketiga terdakwa. Sehingga, dari hasil audit, negara mengalami kerugian Rp784,4 juta. Dalam kasus ini, Aris dan Zainal ditahan di Rutan Klas IA Tanjung Gusta Medan, sementara Fendi Sebayang tidak ditahan.



(UWA)