Perburuan Hewan Langka Masih Tinggi di Indonesia

Farida Noris    •    Selasa, 18 Oct 2016 15:48 WIB
satwa langka
Perburuan Hewan Langka Masih Tinggi di Indonesia
Anak Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) mendapat air susu dari petugas taman nasional di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser, Kec Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumut, Kamis (17/5/2012). Foto: Antara/Septianda Perdana

Metrotvnews.com, Medan: Kasus kejahatan terhadap satwa langka di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Tercatat dari Januari hingga September 2016 ada sebanyak 72 kasus. Hukuman pidana yang rendah dianggap tak memberikan efek jera bagi pelaku.

"Bisa jadi melampaui jumlah kasus di 2015 yang mencapai 93 kasus," kata Wildlife Trade Program Manajer, Dwi N. Adhiasto, di Medan, Selasa (18/10/2016).

Efek jera, kata Dwi, bisa timbul ketika ada pidana penjara dan denda yang maksimal. Namun, di sisi lain, jaksa dan hakim hanya melihat dari jumlah barang bukti. Menurutnya, dampak yang ditimbulkan akibat perdagangan satwa langka ini harus menjadi pertimbangan aparat penegak hukum.

"Aparat penegak hukum harus melihat penanganan kasus tak hanya dari barang bukti. Misalnya putusan di Pengadilan Negeri Stabat, Ada ketiga terdakwa penjual kulit harimau hanya dijatuhi hukuman masing-masing satu tahun lima bulan penjara, bahkan subsider dari denda hanya tiga bulan kurungan. Ini tak akan memberi efek jera," urainya

Kasus-kasus perdagangan satwa dilindungi, lanjut dia, banyak terjadi di Sumatera Utara. Hewan yang paling banyak diperdagangkan adalah harimau, burung, trenggiling, burung rangkong, dan gading gajah.

"Artinya hewan-hewan tersebut disuplai dari Sumut. Misalnya harimau yang kerap dibunuh dan kulitnya dijual ke daerah lain," ucapnya

Wildlife Cobservation Society (WCS) terus bekerja sama dengan berbagai instansi seperti polisi, bea cukai, dan kejaksaan untuk memerangi penjualan hewan langka. Dwi berharap para pelaku dituntut hukuman berat. Dengan upaya itu, perburuan hewan langka bisa dikurangi dan tak cepat punah.

"Selain itu, kita sarankan agar barang bukti itu dimusnahkan agar barang bukti tidak balik lagi ke pasar," ujar dia.

 


(UWA)