4 Pasien Difteri di Aceh Meninggal

Ferdian Ananda    •    Jumat, 08 Dec 2017 18:18 WIB
klb difteri
4 Pasien Difteri di Aceh Meninggal
Ilustrasi (Foto: Netmum)

Banda Aceh: Sebanyak 4 pasien difteri meninggal  setelah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Kepala Bidang Penanganan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Aceh, Abdul Fatah, mengatakan, penyakit difteri di Aceh sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Penyakit ini semakin meluas dan ditemukan sebanyak 90 kasus sepanjang 2017.

"Jumlah ini jauh lebih besar pada Tahun 2016 hanya sekitar 11 Kasus. Bahkan, 4 pasein diantaranya dinyatakan meninggal dan 4 orang lainnya sedang dirawat intensif," sebutnya. 

Abdul Fatah, menyebutkan, keempat pasien yang meninggal dunia berasal dari daerah yang tingkat kasusnnya tinggi, yaitu Aceh Timur, Pidie Jaya, Bireuen dan Aceh Utara. Begitu juga, ia menyakini penyebaran penyakit difteri di Aceh semakin meluas dan patut diwaspadai.

"Meskipun ada sebagian yang masih suspek (terduga) Difteri. Tetapi, sampai hari ini ada 90 kasus dan 4 orang diantaranya sedang dirawat di RSUZA. Aceh sudah KLB Difteri. Dalam konteks Difteri, ada satu saja terduga Difteri sudah dikategorikan KLB," terangnya.

Ia menambahkan, penularan penyakit difteri sangat cepat melalui udara, seperti bersin, batuk, percikan air liur dan terkena sentuhan penderita difteri. Oleh karena itu, cukup berbahaya karena dapat menyebabkan kematian.

"Penyakit ini menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan disertai demam dan sesak nafas. Biasanya itu dikarenakan ada sumbatan saluran pernapasan atas atau toksinnya yang bersifat pathogen, menimbulkan komplikasi miokarditis, paralisis saraf kranial, perifer, artritis, osteomyelitis, gagal ginjal, hingga gagal sirkulasi," sebutnya.

Menurutnya, awal dari terkena penyakit Difteri, akibat belum meratanya proses penyaluran imunisasi di seluruh pelosok Aceh. Bahkan, ada sebagian orang tua yang tidak berkenan anaknya diimunisasi karena adanya pemikiran-pemikiran negatif terhadap vaksin imunisasi.

"Pencegahannya melalui vaksin DTaP dan obat biasanya dengan antibiotik serta antibiotic penisilin, dilakukan merata di seluruh pelosok Aceh. Secara umum hal itu dilakukan guna menetralkan toksin difteri yang ada di dalam tubuh penderita," terangnya.

Oleh karena itu, guna mengantisipasi meluasnya penyakit difteri. Dinkes Aceh menghimbau agar orang tua segera memberikan imunisasi kepada balita dan anak-anak. Pasalnya, hanya dengan cara demikian, dapat mencegah tertularnya penyakit difteri.

"Segera membawa anggota keluarganya yang mengalami gejala difteri ke fasilitas kesehatan terdekat. Hanya itu satu-satunya cara mencegahnya, dengan cara memberikan imunisasi," ujarnya. 

Ia menyebutkan, dari 90 pasien yang terkena difteri, sebanyak 91 persen atau 82 orang, tidak pernah mendapat imunisasi. Sedangkan 8 orang lainnya atau 9 persen baru tiga kali mendapatkan imunisasi.

"Usia pasien yang terkena sakit difteri, umumnya usia 11-15 tahun atau pelajar paling banyak terkena difteri, dan anak sekolah yang tinggal di asrama. Soalnya, jika salah satu kawannya terinfeksi bakteri difteri, maka bisa menularkan kepada kawan lainnya pada saat berkomunikasi," lanjutnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Aceh, terdapat 12 kabupaten/kota di Aceh yang teinfeksi bakteri difteri. Masing-masing Aceh Timur 18 orang, Pidie Jaya 14 orang, Banda Aceh 14 orang, Bireuen 11 orang, Aceh Utara 11 orang, Pidie 6 orang, Aceh Besar 6 orang, Aceh Barat 4 orang, Lhokseumawe 2 orang, Sabang 2 orang, Aceh Selatan dan Aceh Tamiang 1 orang.

Secara nasional Aceh menduduki peringkat keempat dalam KLB difteri, setelah Jawa Timur 271 kasus (11 orang meninggal), Jawa Barat 95 kasus (10 orang meninggal), dan Banten 91 kasus (5 orang meninggal). 


(ALB)