Terdakwa Kabur, Hakim dan Jaksa Saling Tuding

Farida Noris    •    Rabu, 09 Nov 2016 16:33 WIB
tahanan kabur
Terdakwa Kabur, Hakim dan Jaksa Saling Tuding
Foto ilustrasi. (Ant/Nyoman Budhiana)

Metrotvnews.com, Medan: Surjana, warga Palmerah, Jakarta Barat kabur saat dibantarkan di RS Bina Kasih Medan, Sumatera Utara. Hakim dan jaksa saling tuding soal kaburnya perempuan yang jadi terdakwa kasus pencemaran nama baik tersebut.

Hakim Parlindungan Sinaga yang menjadi hakim dalam perkara itu, mengatakan pembantaran dilakukan karena terdakwa menderita kista.

Terdakwa butuh perawatan medis selama dua bulan. Setelah habis pembantaran, kata dia, sidang akan dilanjutkan. 

"JPU telodor karena tidak cermat mengawasi terdakwa. Itu kan masih dalam pengawasan Jaksa dan kenapa jaksa tidak melapor," bebernya, Rabu (9/11/2016).

Humas Pengadilan Negeri Medan, Erintuah Damanik mengatakan ketika dilakukan pembantaran jaksa selaku seksekutor harus melakukan pengawalan di rumah sakit. Selama mendapat perawatan, jaksa harus melaporkan kepada majelis hakim bagaimana perkembangan penyakit tahanan.

"Jika memang sudah kondisi membaik, bisa kita masukkan kembali ke rutan. Jika terdakwa lari, tanggungjawab jaksa dong," ucap Erintuah.

Menurut Erintuah pembantaran yang dilakukan majelis hakim sudah sesuai dengan ketentuan. Bahkan hakim sempat mempertanyakan rekam medis terdakwa kepada Jaksa. Namun jaksa tidak dapat menunjukkan surat rekam medis dari rumah sakit.

Sementara, JPU Randi Tambunan yang menyidangkan perkara Surjana malah menuding Hakim Parlindungan mempersulit persidangan terdakwa. 

"JPU ingin melanjutkan persidangan terhadap terdakwa, tapi hakim terkesan mempersulit dan selalu minta rekam medis terdakwa dan itu tidak bisa dikeluarkan pihak RS Bina Kasih," ujarnya.

Randi Tambunan beralasan tenaga penjaga tahanan di RS Bina Kasih terlalu minim. Seharusnya, hakim menambah tenaga petugas mengawasi tahanan di rumah sakit.

Karena, kata dia, hakim yang mengeluarkan pembantaran dan masa penahanan terdakwa sudah menjadi kewenangan hakim. "Hakim harusnya menambah penjagaan karena itu wewenang hakim," pungkas Rendi.

Surjana diadili di PN Medan karena didakwa melanggar Pasal 27 ayat 3 jo Pasal 45 ayat 1 UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE. Selama penyidikan dan penuntutan terdakwa perempuan itu ditahan di LP Wanita Tanjung Gusta. 

Tetapi di tahap proses persidangan hakim Parlindungan Sinaga malah melakukan pembantaran terdakwa ke Rumah Sakit Bina Kasih Sunggal. Ketika pengawasan lemah, Surjana kabur pada Minggu (6/11/2016) pukul 16.00 WIB.


(SAN)