Keputusan Polisi di Lubuklinggau Menembak Terlalu Cepat

Lukman Diah Sari    •    Kamis, 20 Apr 2017 15:41 WIB
penembakan di lubuklinggau
Keputusan Polisi di Lubuklinggau Menembak Terlalu Cepat
Brigjen Rikwanto. Foto: Metrotvnews.com/Arga Sumantri

Metrotvnews.com, Jakarta: Keputusan oknum polisi memberondong mobil sedan yang enggan berhenti saat razia di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, dinilai terlalu cepat. 

"Saat kejadian, belum muncul ancaman terhadap petugas. Belum muncul juga ancaman ke masyarakat. Masih ada cukup jeda untuk menilai apakah sasaran tersebut menjadi ancaman atau tidak," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Rikwanto, di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis 20 April 2017.

Rikwanto mengatakan fakta itu didapat dari hasil investigasi yang dilakukan Propam Polda Sumatera Selatan yang dibantu Propam Mabes Polri. Dari hasil investigasi, lanjut dia, razia yang dilakukan anggota polisi setempat tak menyalahi aturan.

"Razia tersebut sah dan resmi dipimpin perwira dengan beberapa anggota dan ada papan petunjuk razia. Razia dilakukan sesuai ketentuan," kata Rikwanto. 

Brigadir K masih diperiksa

Hingga kini, kata mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu, pemeriksaan Propam terhadap oknum penembak, yakni Brigadir K, masih berjalan. Rikwanto menyakinkan Brigadir K bisa dikenai sanksi hukum dan pidana bila terbukti bersalah. 

"Kapolda saat ini sedang berkonsentrasi agar tak terjadi kejadian yang berulang," katanya. 

Hasil investigasi terhadap Brigadir K, Rikwanto mengungkap, Propam menggunakan ketentuan dalam Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian. 

"Penggunaan senjata api oleh polisi dilakukan apabila tindakan tersangka atau pelaku kejahatan dapat menimbulkan kematian terhadap anggota Polri atau masyarakat. Kemudian, anggota Polisi tidak punya alternatif lain untuk bisa menghentikan pelaku kejahatan. Pemeriksaan oleh Propam ditentukan peraturan itu," bebernya. 

Polisi juga menggunakan Perkap Nomor 8 Tahun 2009 tentang Hak Asasi Manusia terkait dengan Senjata Api. Dalam Perkap itu dikatakan penggunaan senjata api dalam keadaan luar biasa bisa dilakukan untuk membela diri dan menghindari ancaman kematian. 

"Kedua aturan itu digunakan untuk bisa menilai apakah tindakan anggota pada saat razia sudah tepat atau tidak," kata dia.

Baca: Polda Usut Alasan Brigadir K Lepaskan Tembakan saat Razia

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sempat menyebut masing-masing anggota boleh mengambil keputusan diskresi di lapangan. Namun, bila penilaian kurang tepat maka menjadi risiko untuk anggota tersebut. 

"Penilaian dia sendiri apa sudah tepat momen ancamannya? Kita bisa lihat dari peristiwa yang ada. Kalau kita teliti rinci, ancaman terhadap petugas dan masyarakat belum muncul. Patut diduga dia belum melakukan penembakan saat itu," kata Tito.

Peristiwa pemberondongan tembakan terhadap mobil bermula saat Polres Lubuklinggau dan Polsek Timur 1 Kota Lubuklinggau menggelar razia di pertigaan Jalan Fatmawati-Lubuk Linggau Timur-Jalan Lingkar, Selasa malam 18 April 2017. 

Mobil sedan bernomor polisi BG 1488 ON melaju dari arah Mesat Seni menuju Bandara Silampari. Polisi berusaha menghentikannya. Namun, pengemudi tak menggubris dan mencoba menabrak anggota polisi yang tengah merazia.

Beberapa polisi berusaha mengejar. Di tengah pengejaran, satu di antara mereka melepaskan 10 kali tembakan. Kejadian mengakibatkan Surini, 50, tewas. Dia terkena tembakan di dada. Lima penumpang lainnya terluka. Hanya satu yang tak terkena tembakan.



(UWA)