Petani tak Terpengaruh Rencana Harga Eceran Tertinggi Beras

Alwi Alim    •    Jumat, 28 Jul 2017 19:03 WIB
harga beras
Petani tak Terpengaruh Rencana Harga Eceran Tertinggi Beras
Hamparan sawah di Banyuasin, MTVN - Alwi Alim

Metrotvnews.com, Palembang: Rencana pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras seharga Rp9 ribu per kilogram dinilai tidak mempengaruhi harga penjualan gabah bahkan beras dari petani. Sebab, pengepul atau pembeli telah mematok harga untuk pembelian beras dan juga gabah.

Andriana, 44, petani di Sumsel, mengatakan pengepul atau pembeli yang membeli gabah di tempatnya seharga Rp4.000 per kg. Sedangkan harga gabah kering yaitu Rp4.500 per kg. Harga tersebut sudah berlaku setiap tahun yang ditawarkan oleh pengepul.

Untuk harga beras, para pengepul membeli seharga Rp8 ribu per kilogram.  Menurut Andriana,  harga yang ditawarkan pengepul itu belum wajar mengingat biaya yang dikeluarkannya untuk menanam, memupuk, serta panen cukup tinggi. Namun dirinya tetap menjual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Harga wajarnya yaitu Rp4.500 untuk gabah basah dan Rp5.000 untuk gabah kering," kata Andriana ditemui di rumahnya di Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Jumat 28 Juli 2017.

Setiap tahun, sawah miliknya hanya panen sekali dengan hasil produksi sebanyak 200 kaleng dimana satu kaleng seberat 11 kilogram.

Andriana mengaku tak bisa mematok harga jual. Yang penting, ungkapnya, ia bisa memenuhi kebutuhan membeli pupuk dan bibit.

"Itu belum lagi upah dan makan para petani. Tapi, kami senang karena bisa berkumpul pada saat menanam dan juga memanen," terangnya.

Sementara itu, Kadiv Humas Mabes Polri sekaligus Kepala Satgas Pangan, Irjen Setyo Wasisto mengatakan tengah meningkatkan komoditas beras. Sebab, beras merupakan bahan pokok mulai dari Sabang hingga Merauke.

"Berdasarkan data kami ada 400 orang penyalur beras mendapatkan keuntungan sekitar Rp180 triliun dari hasil pembeli kepada petani," katanya saat berkunjung ke Polda Sumsel.

Setyo menilai fakta itu tak adil. Petani bekerja keras meningkatkan mutu beras. Sementara penyalur hanya duduk-duduk manis tapi bisa mendapatkan keuntungan jutaan rupiah.

"Kami akan memotong rantai distribusi atau titik tata niaga agar harga beras dapat dikendalikan," pungkasnya.



(RRN)