39,3 Ton Beras di Gudang Bulog Oplosan

Alwi Alim    •    Senin, 24 Jul 2017 15:25 WIB
beras
39,3 Ton Beras di Gudang Bulog Oplosan
Kapolda Sumsel, Irjen Agung Budi Maryoto didampingi Dirreskrimsus Polda Sumsel, Kombes Irawan David Syah saat memberikan keterangan pers--MTVN/Alwi--

Metrotvnews.com, Palembang: Kepolisan Derah (Polda) Sumatera Selatan menyita 39,3 ton beras tak layak edar dioplos di gudang Bulog Lahat. Beras kualitas buruk sisa 2016 diaduk dengan beras bagus pengadaan 2017.

Kapolda Sumsel Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan, temuan itu berdasarkan informasi warga di Kabupaten Muara Enim. Beras Pra-Sejahtera atau beras miskin (Raskin) itu tak layak dikonsumsi.

“Barang bukti yang kami sita yakni beras seberat 39,3 ton, kemudian dua unit drum modifikasi alat oplos, dua unit timbangan 500 kilogram, satu unit mesin jahit, 25 karung kemasan 15 kilogram dan 25 unit karung kemasan 50 kilogram,” kata Agung di Mapolda Sumsel, Senin 24 Juli 2017.

Menurut Agung, Modus yang digunakan, yakni raskin kemasan karung 50 kilogram pengadaan tahun 2017 kualitas baik dicampur dengan beras kemasan 15 kilogram pengadaan 2016 dengan mutu rendah atau tidak baik.



Agung bilang, beras oplosan itu ada yang beredar di masyarakat, namun pihaknya belum mengetahui berapa banyak yang sudah didistribusikan ke masyarakat. Saat ini belum ada pelaku yang ditetapkan tersangka. Sebab masih harus diselidiki terlebih dahulu apakah proses pengoplosan ini diperbolehkan atau tidak.

“Tapi kami memeriksa 3 orang, yakni Kepala Bulog Sub Divre Lahat inisial AM, Penanggung Jawab Pengoplosan berinsial HD, dan kepala gudang inisial FB,” ujarnya.

Jika memang nantinya terbukti bersalah, ketiganya bisa diancam hukuman 5 tahun penjara, dengan pasal perlindungan konsumen.

Ditrmpat yang sama, Dirreskrimsus Polda Sumsel, Kombes Irawan David Syah menambahkan, Bulog Sub Divre Lahat mendistribusikan raskin di lima kabupaten yakni, Muara Enim, Pali, Empat Lawang, Pagaralam dan Prabumulih.

“Saat ini kami masih mendalami komposisi dari pengoplosan beras sisa 2016 dengan beras 2017 ini,” katanya.

Dalam sidak tersebut pihaknya menemukan ribuan ton beras pengadaan tahun 2016 belum didistribusikan, dan ratusan ton beras kualitas buruk pengadaan tahun 2016 dioplos dengan beras tahun 2017.

“Kami masih menyelidiki mengapa tidak didistribusikan kepada masyarakat miskin. Tapi, kami mendapatkan informasi bahwa raskin ini ditolak oleh warga karena kualitasnya buruk. Bahkan, kami menemukan ada kutu,” ujarnya.


(ALB)