35 Ton Beras dari Singapura Dikemas Bak Barang Elektronik

Anwar Sadat Guna    •    Selasa, 06 Sep 2016 21:49 WIB
penyelundupan
35 Ton Beras dari Singapura Dikemas Bak Barang Elektronik
Ketua Komisi II DPRD Batam Yudi Kurnain memeriksa susunan kardus berisi beras impor dari Singapura di atas kapal PLS 8 di Pelabuhan Beton Sekupang. Foto: Metrotvnews.com/Anwar Sadat Guna

Metrotvnews.com, Batam: Dua kapal pengangkut puluhan ton beras impor dari Singapura ditangkap otoritas Pelabuhan Sekupang, Batam. Kedua kapal tersebut saat ini dalam pengawasan Badan Keamanan Laut (Bakamla) dan Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea Cukai Tipe B Batam. 

Informasi yang dihimpun, puluhan ton beras impor yang diangkut kedua kapal tersebut dikemas rapi menggunakan kardus bekas barang elektronik. Cara ini diduga sengaja digunakan pemilik barang agar terhindar dari razia petugas. 

Namun, upaya penyelundupan 35 ton beras tersebut tercium jajaran Bakamla yang melakukan operasi di perairan Kepri. Mereka memeriksa barang muatan dan mendapati ratusan karung beras berbagai merek. 

Beras-beras itu, kata sumber di Pelabuhan Beton Sekupang, dikemas menggunakan valet kayu lalu dibungkus dengan kardus bekas barang elektronik. "Ini modus yang digunakan pemilik barang untuk mengelabui petugas," kata sumber kepada Metrotvnews.com, Selasa (6/9/2016). 

Penyelundupan puluhan ton beras impor itu juga sampai ke telinga Ketua Komisi II DPRD Batam, Yudi Kurnain. Masih maraknya penyelundupan beras impor ke Batam membuatnya gerah. Ia bersama beberapa staf melakukan sidak ke atas kapal tersebut. 

Yudi terperangah karena penyelundupan beras impor itu tidak lazim dari biasanya. "Sepintas dilihat, itu barang elektronik. Tapi setelah saya periksa, isinya ternyata beras ukuran 25 kilogram," kata Yudi usai bertemu pimpinan Bea Cukai Batam membahas masuknya 35 ton beras itu di kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam.

Pihaknya menyayangkan lemahnya pengawasan dan pemeriksaan oleh petugas, khususnya Bea Cukai Batam terhadap barang-barang impor yang masuk melalui jalur di wilayah FTZ Batam. 

"Semuanya bebas. Bahkan saat kami mau naik ke kapal itu sempat adu mulut dengan ABK dan nakhodanya," kata Yudi.

Pihaknya menduga, beras tersebut milik pengusaha beras di Batam. Pengusaha itu, kata Yudi, diduga memanfaatkan kegiatan penyelundupan tersebut untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok, terutama beras di Kota Batam.

Kepala Kantor KPU Bea Cukai Tipe B Batam Nugroho yang berusaha dikonfirmasi Metrotvnews.com mengaku sedang berada di Malaysia. Pihakya belum mendapatkan laporan dari jajaran terkait mengenai penangkapan kedua kapal tersebut.

"Saya lagi berada di Malaysia, lagi ada kegiatan. Saya belum terima laporannya sehingga belum bisa menyampaikan mengenai penangkapan kedua kapal tersebut," kata Nugroho.


(UWA)