Diskriminasi atas ODHA Picu Tingginya HIV/AIDS di Sumut

Farida Noris    •    Kamis, 30 Nov 2017 16:57 WIB
aids
Diskriminasi atas ODHA Picu Tingginya HIV/AIDS di Sumut
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumut Rachmatsyah -- medcom.id/Farida Noris

Medan: Kasus HIV-AIDS di Sumatera Utara ibarat fenomena gunung es. Hingga Juni 2017 tercatat ada 3.478 kasus HIV dan 4.921 kasus AIDS.

"Jumlah itu dari 1994 hingga Juni 2017. Berdasarkan teori gunung es, setiap satu kasus yang muncul di permukaan, ada 100 kasus yang belum kelihatan," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumut Rachmatsyah di Medan, Kamis, 30 November 2017.

Rachmatsyah menyebut penyebab masih tingginya kasus HIV/AIDS di Sumut adalah adanya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). "Banyak yang menganggap virus ini bisa menular hanya dengan berjabat tangan, berdekatan dengan penderita, penyakit kutukan, dan harus dijauhi. Sehingga, ODHA akan merahasiakan status HIV/AIDS-nya dan tidak mengakses layanan pengobatan. Lalu, terjadi penularan diam-diam karena ODHA berkeliaran dengan bebas dan menularkan ke orang lain," ucapnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Sumut berada pada urutan ke-7 dari 33 provinsi di Indonesia dengan kasus HIV/AIDS terbanyak. Angka prevalensi HIV/AIDS di Sumut mencapai 28,97 per 100.000 penduduk. Artinya, setiap 100.000 penduduk di Sumut terdapat 29 orang mengidap HIV/AIDS.

"Ini sangat memprihatinkan. Dikhawatirkan orang dengam HIV/AIDS yang belum ditemukan tersebut akan menularkan HIV ke orang lain," ungkapnya.

Kepala Sekretariat KPA Sumut Ahmad Ramadhan menambahkan HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sehingga, daya tahan tubuh terus menurun dan mudah tertular oleh berbagai jenis penyakit.

"Virus ini terdapat di cairan tubuh manusia, yaitu darah, sperma, vagina, dan air susu ibu yang mengidap HIV. Seseorang akan tertular virus HIV jika cairan tubuh penderita yang mengandung virus tersebut berpindah ke tubuh manusia yang sehat," urainya.

Sedangkan AIDS adalah kumpulan gejala atau penyakit yang muncul akibat HIV. Pada tahap ini, daya tahan tubuh penderita sudah sangat rendah dan akan mengalami kematian.

HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan. Tapi, bisa dihambat perkembangannya dalam tubuh dengan disiplin mengkonsumsi ARV (Anti-Retro Viral).

"Perilaku masyarakat yang berisiko tertular HIV adalah melakukan hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan dan tidak pakai pengaman, menggunakan jarum suntik yang tidak steril, dan penularan dari ibu ke bayi," lanjut Ahmad.

Menurut Ahmad, hampir semua kabupaten/kota di Sumut sudah terbentuk KPA. Namun, tidak semuanya aktif. Apalagi masih banyak ditemukan tempat-tempat prostitusi, perilaku seks di luar nikah dan seks sesama jenis.

"Maka, dalam momentum memperingati Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2017 mendatang, KPA mengajak semua masyarakat untuk peduli dengan masalah ini dengan melakukan tes HIV dan melanjutkan dengan pengobatan ARV. Dengan mengetahui status sejak dini dan mendapatkan ARV, maka akan mendorong penurunan epidemi HIV," pungkasnya.


(NIN)