Mahasiswa Pembunuh Dosen UMSU Sudah Lama Rencanakan Aksinya

Farida Noris    •    Kamis, 29 Sep 2016 16:29 WIB
pembunuhan
Mahasiswa Pembunuh Dosen UMSU Sudah Lama Rencanakan Aksinya
Rekonstruksi pembunuhan dosen di sebuah universitas di Sumut. Foto-foto: Metrotvnews.com/Farida Noris

Metrotvnews.com, Medan: Roymardo Sah, 20, mahasiswa pembunuh dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Nur Ain Lubis, sudah lama merencanakan aksinya. 

Fakta itu terungkap saat terdakwa menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Medan, Kamis 29 September 2016. Remaja asal Padang Sidempuan ini terancam hukuman mati karena secara terencana menghabisi nyawa dosennya.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Sontan Merauke, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Matias mengatakan peristiwa pembunuhan terjadi pada Senin 2 Mei 2016 sekira pukul 15.47 WIB di dalam kamar mandi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan UMSU, di Jalan Muchtar Basri Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.

Sejak bangun tidur di rumahnya di Jalan Tuasan Medan sekitar pukul 08.00 WIB, terdakwa sudah terpikir untuk menghabisi nyawa Nur Ain Lubis. Niat itu sudah dia pendam karena terdakwa sudah menaruh dendam terhadap korban yang kerap memarahinya dan mengancam akan memberi nilai jelek.

Sekira pukul 11.00 WIB sebelum berangkat ke kampus, terdakwa mengambil dan membawa pisau bergagang hijau bersarung dan satu martil. Alat-alat itu dia simpan di bawah jok sepeda motor Supra X 125 hitam bernopol BK 2147 UL.

Selanjutnya terdakwa berangkat menuju kampus dan memarkir sepeda motornya di parkiran Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan (FKIP). Dia lantas naik ke lantai 4 (empat) menuju ke ruang kuliah untuk mengikuti mata kuliah Hukum Dagang yang diampu korban pada pukul 13.00 WIB. Perkuliahan sedaianya berlangsung hingga pukul 15.00 WIB.

Namun, korban tak kunjung datang mengajar. Sekira pukul 14.15 WIB terdakwa keluar dari ruang kuliah dan langsung menuju parkiran sepeda motor. Terdakwa lantas mengambil pisau tersebut dan menyimpannya di saku celana sebelah kiri dan martil di saku sebelah kanan.

Terdakwa juga mengambil topi biru di bagasi jok sepeda motor dan dia selipkan di saku celana belakang. Terdakwa masuk kembali ke Gedung FKIP dan duduk di depan ruang dosen yang berada di lantai satu. Saat itulah terdakwa melihat korban keluar dari ruang dosen.


Terdakwa Roymardo Sah, 20

Terdakwa melihat korban masuk ke dalam kamar mandi FKIP. Tiga menit berselang, terdakwa mengikutinya sambil memasang topi. Dia mengunci pintu kamar mandi dari dalam dan menunggu korban keluar. 

Begitu keluar, korban langsung mengeluarkan pisau dan menghujamkannya ke leher. Korban sempat menangkis, namun karena tenaganya lebih kuat terdakwa berhasil menghujamkan pisau berkali-kali hingga korban tak berdaya. Saat itu korban terus menjerit minta tolong.

Melihat korban sudah tidak berdaya terdakwa lalu menyimpan pisau itu ke saku celananya. Di luar, pintu berupaya didobrak. Terdakwa langsung mengeluarkan martil. "Ngapain kau?" kata saksi Syarif melihat terdakwa yang sudah membuka pintu kamar mandi.

Terdakwa menjawab, "ada keran air patah, Pak." Dan saat itulah terdakwa langsung berlari keluar dari kamar mandi menuju ke kamar mandi di Gedung Fakultas Ekonomi. Terdakwa lantas mengunci pintu dan mencuci tangan serta pisaunya. Pisau itu lantas dia bungkus memakai jaket dan dia masukkan ke ember hitam yang berada di dekat pintu kamar mandi.

Terdakwa ternyata sudah diikuti mahasiswa lain. Mereka menggedeor-gedor pintu kamar mandi agar terdakwa keluar. Begitu terbuka, para mahasiswa itu langsung memukuli terdakwa.

"Dasar Tak punya otak. Dosen kau bunuh," teriak sejumlah mahasiswa. Setengah jam berselang, polisi datang dan langsung menangkap terdakwa.

Jaksa menjerat terdakwa dengan dakwaan subsidair sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati.

Usai persidangan, terdakwa yang mengenakan pakaian tahanan anak itu hanya tertunduk dan diam membisu. Tak tampak keluarga maupun rekan yang menghadiri persidangan perdana ini. 

Tim penasehat hukum terdakwa mengaku akan menyampaikan eksepsi atau tanggapan atas dakwaan JPU pada Kamis 6 Oktober.

JPU Matias mengatakan terdakwa ditahan di Lapas Anak Tanjung Gusta Medan.

 


(UWA)