Polda Periksa Pria Terima Uang dari Bupati Pakpak Bharat

Laela Badriyah    •    Kamis, 22 Nov 2018 16:39 WIB
ott kpk
Polda Periksa Pria Terima Uang dari Bupati Pakpak Bharat
Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda Berutu berjaket biru dikawal menuju Gedung KPK, Jakarta, Senin, 18 November 2018, MI - Susanto

Medan: Polda Sumatera Utara memanggil seorang pria berinisial FD terkait kasus yang menjerat Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda Berutu. FD diminta keterangan seputar pernyataan KPK soal dugaan uang suap yang diterima Remigo untuk menuntaskan kasus yang sedang diselidiki penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus Polda Sumut terhadap istri Bupati Pakpak, Made Tirta Kusuma Dewi, tersebut.

"Kami mengundang FD untuk dimintakan klarifikasinya," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Kamis, 22 November 201.

FD mengaku Remigo meminta untuk menuntaskan perkara pidana yang menyeret istrinya sebagai saksi. Perkara itu berkaitan dengan kegiatan PKK tahun anggaran 2014 di Kabupaten Pakpak Bharat yang diduga merugikan negara hingga kurang lebih Rp150 juta.

FD mengaku bertemu dengan RA, orang kepercayaan Remigo. Pertemuan berlangsung dua kali. RA menyerahkan sejumlah uang kepada FD, total Rp400 juta. Penyerahan uang dilakukan dua kali di sebuah hotel di Medan.

Baca: Kapolda Sumut Persilakan KPK Memeriksa Anak Buahnya

Setelah menerima uang itu, FD meninggalkan hotel dan menuju sebuah bank swasta. Lalu, ia menyetorkan uang itu ke rekening pribadinya. FD mengaku tak menggunakan uang itu untuk pengurusan tindak pidana yang sedang diselidiki penyidik.

"Jadi uang tersebut hanya disimpannya, FD tidak ada berkomunikasi maupun meminta bantuan kepada penyidik, anggota maupun perwira di jajaran Polda Sumut," jelas Tatan.

FD pun mengaku mengetahui penangkapan Remigo oleh penyidik KPK melalui pemberitaan media televisi dan daring. 

Selain FD, kata Tatan, Polda Sumut pun melakukan pemeriksaan internal. Hasilnya, tak satupun penyidik menerima uang tersebut.

"Intinya, anggota tidak ada berkomunikasi dan dimintakan bantuan oleh FD. Baik itu dari Polres, ataupun Polda yang berkomunikasi meminta sejumlah uang terkait penghentian penyelidikan," ungkap Tatan.

Pernyataan Tatan itu menjawab dugaan KPK soal aliran suap yang diterima dari Remigo untuk menghentikan kasus yang menyeret istrinya. 

Kusuma Dewi tersandung kasus dugaan korupsi dana kegiatan fasilitasi peran serta tim penggerak PKK Kabupaten Pakpak Bharat pada 2014 silam. Kasus itu awalnya ditangani oleh Polres Pakpak Bharat.

Kasus itu kemudian dilimpahkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumatera Utara pada awal 2018. Sejumlah pihak dipanggil untuk dimintai keterangan terkait kasus tersebut.

Baca: KPK Telisik Aliran Uang ke Polda Sumut

Lalu pada pertengahan November 2018, penyidik menghentikan penyelidikan. Alasannya, Kusuma Dewi telah mengembalikan uang yang diduga hasil korupsi sebesar Rp143 juta.

"Sesuai SOP kita, kerugian negara yang sudah dikembalikan ke kas negara, wajib dihentikan penyelidikannya. Karena itu tidak termasuk pidana. Masih penyelidikan, masih pemeriksaan saksi," lanjut Tatan.

Sementara itu, Remigo ditangkap pada Minggu, 18 November 2018. KPK mengamankan duit sebesar Rp150 juta dalam penangkapan tersebut.

Baca: Remigo Diduga Pakai Duit Suap buat Mengamankan Kasus Istri

Remigo diduga menerima suap dari mitra yang sedang mengerjakan proyek-proyek di lingkungan Pemkab Pakpak Bharat. Diduga pula, Remigo menggunakan uang itu untuk mengamankan istrinya.


(RRN)