12 Pasien Pengidap HIV/AIDs di Medan Meninggal

Farida Noris    •    Selasa, 08 Aug 2017 16:25 WIB
aids
12 Pasien Pengidap HIV/AIDs di Medan Meninggal
Foto ilustrasi. (Ant/Basri Marzuki)

Metrotvnews.com, Medan: Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDs) masih ditemukan di Kota Medan. Di RSUD dr Pirngadi Medan, 12 orang meninggal akibat HIV AIDs kurun Januari-Juli 2017.

Kepala Sub Bagian Humas RSUD dr Pirngadi Medan, Edison Perangin Angin, merinci, pada Januari ada dua orang yang meninggal, Maret empat orang, April satu orang, Mei ada empat orang, di Juni ada satu orang yang meninggal.

"Total keseluruhan pasien yang memeriksakan diri ke Klinik VCT RSUD dr Pirngadi Medan selama Januari- Juli 2017 ada 115 orang. Pasien paling banyak yakni di bulan Mei 2017, ada 22 orang, terdiri dari 17 orang laki-laki dan lima perempuan," kata Edison, Selasa 8 Agustus 2017. 

Edison menyebutkan berbagai faktor menjadi penyebab pasien terinfeksi HIV/AIDs. Di antaranya, faktor seks bebas, seks yang ditularkan dari suami dan perilaku lelaki suka lelaki (LSL).

"Dari data tersebut, rentang umur pasien HIV/AIDS bervariasi, rata-rata usia produktif, yakni 20 hingga 65 tahun. Bahkan, pada Juni, terdata ada pasien umur dua tahun yang menjalani pengobatan. Ada juga pasien tertua berusia 69 tahun yang berobat pada Juli 2017," terangnya.

Terpisah, Pembina Yayasan Medan Plus, Eban Totonta Kaban mengatakan tingginya temuan kasus HIV AIDs karena kesadaran pasien yang memeriksakan dirinya ke Klinik Voluntary Counseling Test (VCT) juga tinggi.

"Artinya program pencegahan HIV itu tinggi. Karena kasus itu sudah ditemukan. Jadi pasien sadar untuk memeriksakan dirinya ke Klinik VCT," kata Eban Totonta Kaban.

Namun yang perlu diantisipasi adalah bagaimana pasien yang positif HIV itu mendapat penanganan segera sehingga bisa hidup seperti tidak terjangkit HIV. Artinya ODHA (Orang Dengan HIV/AIDs tersebut dapat meminum obat Antiretroviral (ARV)

"Kita juga berharap ODHA dapat meminum ARV secara teratur serta mau menjaga kesehatan dirinya dan tidak menularkan HIV dengan sengaja atau tidak disengaja," urainya.

Dia berharap obat ARV juga tersedia di semua puskesmas. Sehingga ODHA dengan mudah mendapatkan obat tersebut. Apalagi idealnya semua puskesmas bisa memberikan obat ARV.

"Tapi kenyataannya baru beberapa puskesmas yang menyediakan ARV. Ini harus menjadi tanggungjawab Pemko. Kesadaran masyarakat juga harus ditingkatkan untuk deteksi dini HIV. Sehingga ODHA cepat mendapat penanganan," urainya.


(ALB)