BNPT Titip Satu Napi Teroris di Lapas Pangkalpinang

Rendy Ferdiansyah    •    Jumat, 18 Aug 2017 16:16 WIB
teroris
BNPT Titip Satu Napi Teroris di Lapas Pangkalpinang
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Bangka Belitung: Kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yoseph mengatakan saat ini, ada satu napi teroris (Napiter) yang dititipkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Lapas kelas II Pangkalpinang.

Teroris tersebut bernama Alfan, saat ini dia menjalani hukuman selama lima tahun, namun saat dipindahkan ke lapas pangkalpinang tinggal menjalani masa tahanan sekitar 4 tahun.

"Namanya Alfan alias Ronal, usianya 35, terjerat UU No.15/2003, pidana 5 tahun diputuskan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, dan mulai ditahan 29 Januari 2016," kata Yoseph.

Alfan menurutnya merupakan 1 dari 50 teroris yang masuk program dari BNPT yang sudah disetujui Dirjen PAS. Untuk di sebarkan di titip di seluruh Lapas di Indonesia.

"Alfan ini satu dari 50 teroris yang masuk program BNPT untuk di titipkan di seluruh lapas yang ada di Indonesia,"ujarnya.

"Rencannya kita kemarin dialokasikan III, satu di Pangkalpinang, 2 di Tanjungpandan, lalu kita coba dengan polda dan BIN dan untuk sementara kita bersyukur hanya 1 yang ditempatkan disini di Lapas Pangkalpinang," ungkap dia.

Saat ini, Di jelaskan Yoseph, Alfan sudah di tempatkan di lapas isolasi sendiri, dalam tahapan masa pengenalan lingkungan.

"Sementara ini dia sel strap yang memang hanya sendiri satu kamar dan satu orang, bukan besar, biasanya masa perkenalan lingkungan ini tergantung kebutuhan, tapi biasanya tidak lebih 2 minggu, tapi kasus tertentu bisa lebih," ungkap dia. Sembari menyebutkan, rencananya, napi terorisme ini akan menetap di lapas pangkalpinang hingga habis masa tahanannya.

Disinggung, akan adanya kemungkinan napi ini menyampaikan doktrinnya kepada napi lain di Lapas, Yoseph menjelaskan hal akan diminalisirkan dan akan mendapat perhatian khusus dari penjaga lapas lantaran jenis kejahatannya berbeda dengan jenis kejahatan umumnya.

"Penyampaian doktrin ini pasti terjadi kalau ada kesempatan, makanya kita harus antisipasi hal itu jangan sampai melakukan hal itu. Misalnya dia kalau solat selalu mau jadi imam, kalau enggak jadi imam dia enggak mau solat, tapi tetap kita enggak kasih dan memang tidak boleh, jadi dia solat sendiri di kamarnya itu," bebernya.

Pihaknya juga melakukan langkah-langkah khsusus, misalnya dengan tidak membiarkan berinteraksi dengan banyak orang untuk beberapa waktu ini.

"Langkah-langkah kita, membentuk grup khusus untuk menangani dia, enggak sembarangan bisa ke dia, misalnya saya mau ketemu dia, yang bisa memanggil itu hanya petugas khsusus yang sudah ditunjuk Kalapas," ucap Yoseph.



(ALB)