Antisipasi Obat Ilegal, Satgas Operasional Bersama Dibentuk

Farida Noris    •    Rabu, 04 Oct 2017 14:45 WIB
obat berbahaya
Antisipasi Obat Ilegal, Satgas Operasional Bersama Dibentuk
ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Medan: Maraknya peredaran obat-obatan ilegal dan penyalahgunaan obat saat ini menjadi ancaman serius. Apalagi banyak kasus peredaran obat ilegal yang memakan korban. Karena itulah dibentuk Satgas Operasional Bersama agar pelaku mudah diindikasi dan diberikan tindakan tegas.

Hal itu dikatakan Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan, Yulius Sacramento Tarigan, pada kegiatan dukungan dan komitmen stakeholder dalam aksi nasional pemberantasan penyalahgunaan obat ilegal di Medan, Rabu 4 Oktober 2017.

"Modus penyalahgunaan obat sama seperti mafia narkoba, awalnya korban dikasih gratis. Diperlukan komitmen seluruh pemangku kepentingan. Supaya penyalahgunaan obat tidak terjadi lagi khususnya di Sumut," kata Sacramento.

BBPOM, kata Sacramento juga telah bersinergi dengan BNN, Kepolisian dan Kejaksaan agar pelaku penyahgunaan obat dilakukan penahanan dan dituntut lebih tinggi. Upaya ini untuk memberikan efek jera bagi pelaku penyalahgunaan obat.

"Kita komitmen akan sinergi, supaya penuntutan dan vonisnya memberikan efek jera dan tingkat BNN dan Kejaksaan pelaku ditahan. Ke depannya jika produk bermasalah kita tindak tegas dengan menutup sarana. Jadi sekarang tidak ada konfromi," urainya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Sumut, Amin Wijaya menambahkan guna mencegah terjadinya penyalahgunaan obat, maka akan ditingkatkan penyuluhan ke semua anggota GP Farmasi. 

"Kami dari GP Farmasi mendukung 100 persen komitmen pemberantasan penyalahgunaan obat. Modus penyalahgunaan obat saat ini luar biasa. Seperti pil PCC itu, padahal di 2013 sudah dilarang, tapi ternyata ditemukan beredar di Sumut. Ini memang harus ditindak," ungkapnya.

Amin mengakui masih banyak apotek di Sumut yang tidak menjadi anggota GP Farmasi. Karena itulah Amin berharap sarana penjualan obat lainnya agar bergabung menjadi anggota GP Farmasi.

"Memang ada kesulitan, karena tak semua apotek itu anggota GP Farmasi. Paling apotek di Sumut ini 20 persen anggota kita. Padahal ada sekitar 900 apotek di Sumut. Jadi itu kesulitan kita kalau penyuluhan. Kita harap apotek lain bisa menjadi anggota," bebernya.



(ALB)