Minim Dana, Penanggulangan Aids Sumut Terancam Berhenti

Farida Noris    •    Rabu, 02 Nov 2016 11:19 WIB
aids
Minim Dana, Penanggulangan Aids Sumut Terancam Berhenti
Ilustrasi: Kampanye Aids. (Ant/Iggoy El Fitra)

Metrotvnews.com, Medan: Komisi Penanggulangan AIDS Sumatera Utara (KPA Sumut) belum mendapat kucuran dana dari pemprov. Padahal, Gubernur Sumut HT Erry Nuradi adalah pimpinan tertinggi komisi tersebut.

Sekretaris KPA Sumut Ramadhan mengatakan, anggaran komisi dimasukkan dalam Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2016. 

Baca: 766 Warga Sumut Meninggal Akibat AIDS

"Tapi sampai hari ini, belum ada masuk surat dari gubernur ke kami sebagai lembaga penerima di P-APBD. Biasanya ada suratnya lembaga mana yang menerima," kata Ramadhan, Rabu (2/11/2016).

Dia mengaku telah menanyakan masalah ini ke Biro Binsos. Dia mendapat jawaban, tidak ada masalah pada anggaran. "Biro Binsos mengatakan aman, tidak ada masalah," katanya.

Ramadhan khawatir kejadian 2015 terulang. Yakni, anggaran turun pada Desember, sementara tutup tahun buku dilakukan antara tanggal 20-25 bulan itu juga. "Kami pulangkan (anggarannya) karena tidak mungkin bisa digunakan lagi," ungkap Ramadhan.

Baca: Tren Penularan HIV/AIDS Akibat Hubungan Seksual

Kondisi ini, kata dia, akan berpegaruh pada koordinasi penganggulangan AIDS di 23 KPA dari 33 kabupaten kota di Sumut.

Selama ini, KPA Sumut beroperasi dari dana bantuan Global Fund. "Itu digunakan untuk pembinaan empat KPA yang ada di kabupaten kota saja. Untuk kordinasi di luar empat daerah itu, tentu tidak ada," katanya.

"Dari komunikasi dengan gubernur, sangat mendukung. Tapi enggak tahu bagaimana realitanya," ucapnya.

Manajer Proyek Global Fund Andi Ilham mengatakan, bantuan pada 2017 hanya berkaitan biaya kegiatan saja. Sedangkan petugas KPA tidak masuk lagi dalam anggaran pembiayaan.   

"Kasus HIV/AIDS di Sumut hingga saat ini ada 10 ribu. Kalau tidak ada anggaran, bagaimana melakukan upaya pencegahan dengan sosialisasi, koordinasi. Dikhawatirkan program tidak berjalan sesuai yang diharapkan, kasusnya bisa meningkat," bebernya.


(SAN)