Napi Pengendali Narkoba dari Balik Jeruji Kembali Dituntut Mati

Farida Noris    •    Selasa, 05 Dec 2017 17:44 WIB
narkoba
Napi Pengendali Narkoba dari Balik Jeruji Kembali Dituntut Mati
Ilustrasi. MTVN/M Rizal

Medan: Togiman alias Toge alias Tony, 60, terpidana mati kasus penyeludupan narkoba, kembali dituntut hukuman mati. Dia dianggap terlibat mengatur pengiriman 25 kilogram sabu asal Malaysia dari nalik jeruji Lapas Tanjung Gusta Medan.

Selain Togiman, empat terdakwa lainnya dituntut dengan hukuman seumur hidup. Masing-masing kurir yang berada di luar penjara, yakni Abdul alias Edo, Wagimun, Sugiarto, dan seorang terpidana kasus narkotika Thomson Hutabarat.

"Meminta agar majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah memiliki dan menguasai narkotika goloang IA bukan tanaman dengan jumlah lebih dari 5 gram,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewi dalam sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Medan, Selasa, 5 Desember 2017.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Saidin Bagariang, JPU menyatakan Togiman, Thomson, Abdul, Wagimun, dan Sugiarto dituntutu melanggar Pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Kelima terdakwa diagendakan mengajukan pembelaan atau pleidoi pada persidangan pekan depan.

Pengungkapan kasus ini berawal saat petugas Badan Narkotika Nasiona (BNN) menangkap Abdul, Wagimun, dan Sugiarto di Jalan Gatot Suboroto, Medan, tak jauh dari pool bus Kurnia, Minggu, 14 Mei 2017.

Para pelaku sempat mengelabui petugas BNN, dengan menyimpan sabu asal Malaysia itu di dalam kotak fiber pendingin ikan warna biru. Benda itu dibawa menggunakan mobil pikap Mitshubisi dengan nomor polisi BK 9615 CM.

(Simak: Aset Bandar Narkoba terkait Pencucian Uang Diamankan)

Sekitar 3 meter bergerak dari pool bus Kurnia, mobil pikap itu dihentikan petugas BNN yang kemudian melakukan pemerikaan dan menemukan 25 bungkus plastik serbuk kristal putih. Setelah dilakukan pengecekan di laboratorium BNN, serbuk kristal putih itu dipastikan sabu-sabu.

Narkotika itu ternyata dipesan Togiman dari dalam Lapas Tanjung Gusta. Barang haram itu dia pesan dari Ayum, seorang bandar narkoba asal Malaysia. Sabu-sabu itu diselundupkan melalui jalur laut dan masuk ke pelabuhan tikut di Aceh. Dari Aceh, ketiga kurir membawanya ke Medan untuk diedarkan.

Sementara Thomson Hutabarat yang juga narapidana narkotika di Lapas Tanjung Gusta Medan, berperan mencari pembeli sabu itu. Dengan kode '68', Togiman dan Thomson menggunakan telepon genggam berkomunikasi dengan kurirnya. Saat ketiga kaki tangannya ditangkap, Togiman terus mencoba menelpon mereka. Namun tidak diangkat, sehingga dia curiga.

Togiman menghancurkan telepon genggam dan sim card yang dia pakai, kemudian membuangnya ke dalam tong sampah di Lapas Tanjung Gusta Medan. Dia juga menyuruh Thomson untuk menghancurkan telepon genggamnya.

(Baca: BNN Telusuri Jaringan Narkoba yang Melibatkan Polisi)

Namun, petugas BNN sudah punya bukti mereka mengatur pengiriman 25 Kg sabu-sabu itu. Keduanya dijemput petugas BNN dari Lapas Tanjung Gusta Medan dan diterbangkan ke Jakarta untuk proses penyidikan.

Togiman merupakan narapidana perkara narkotika yang tengah menjalani hukuman 9 tahun penjara di Lapas Kelas II B Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumut. Dia kemudian ditangkap kembali karena mengatur peredaran 21,425 Kg sabu-sabu, 44.849 butir pil ekstasi. Hukuman mati dijatuhkan hakim agung kepadanya.

Terkait kasus 21,425 Kg sabu-sabu dan 44.849 butir pil ekstasi ini, Togiman juga mencoba melakukan penyuapan. Dia pun dihukuman 12 tahun penjara dinyatakan bersalah melanggar UU Pencegahan dan Pemberantasan TPPU, karena memberikan Rp2,3 miliar kepada AKP Ichwan Lubis, yang saat itu menjabat Kasat Reserse Narkoba Polres Pelabuhan Belawan.

(Baca: Perwira Polisi Penerima Suap Narkoba Satu Sel Bareng Bandar)


(SUR)