Perahu Nelayan Modus Favorit Penyelundupan Narkoba

   •    Rabu, 07 Feb 2018 17:36 WIB
narkoba
Perahu Nelayan Modus Favorit Penyelundupan Narkoba
Ilustrasi--Barang bukti hasil pengungkapan kasus narkoba di Palembang, Sumatera Selatan. (Foto: ANTARA/Nova Wahyudi)

Jakarta: Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulistiandriatmoko mengatakan sejak Januari 2018 pihaknya secara sporadis melakukan operasi di Aceh dan Sumatera. 

Hasilnya 12 orang tertangkap beserta barang bukti yang dikumpulkan dari Aceh sebanyak 7 kilogram sabu dan 300 butir ekstasi, 87,7 kilogram sabu dan 18 ribu ekstasi dari Sumatera Utara, dan 15 kilogram sabu dari Aceh Utara.

Dengan temuan sebanyak itu, kata Sulis, membuktikan bahwa jaringan narkoba internasional menjadikan wilayah Aceh dan Sumatera sebagai jalur favorit penyelundupan narkoba. 

"Karena memang pantainya sangat panjang dan perahu kecil nelayan mampu menyusur sungai dan bisa merapat di rumah masing-masing membuat pengawasannya sangat sulit," ungkap Sulis, dalam Metro Siang, Rabu 7 Februari 2018.

Kasus penyelundupan narkoba dengan beberapa kali penangkapan dalam jumlah besar itu dilakukan menggunakan kapal besar yang hanya berlayar di perairan internasional Melaka.  

Anggota jaringan narkoba internasional akan memberikan titik kordinat kepada oknum yang menggunakan perahu nelayan untuk menjemput ke tengah laut. 

"Dengan modus begini, sindikat narkoba tidak pernah masuk ke perairan Indonesia secata langsung. Karena mereka tahu bila tertangkap akan mendapatkan hukuman berat yakni hukuman mati," kata Sulis. 

Meski sulit diawasi Sulis mengaku tak akan kehabisan cara untuk mencegah peredaran narkoba jaringan internasional masuk ke Indonesia. Pihaknya akan tetap berjaga dan melakukan patroli di sejumlah titik rawan yang sering dijadikan pintu masuk penyelundupan. 

"Sepanjang pantai di Sumatera, Aceh, dan perairan Riau secara selektif kami melakukan pengawasan prioritas dari spot ke spot. Sudah kamu petakan entry point-nya sehingga kami bisa memberikan informasi di bea cukai maupun polisi perairan untuk melakukan tindakan," jelasnya.




(MEL)