Bayi Penderita Gizi Buruk di Deli Serdang hanya Minum Teh

Farida Noris    •    Jumat, 18 Aug 2017 10:28 WIB
gizi kurang
Bayi Penderita Gizi Buruk di Deli Serdang hanya Minum Teh
Radityanto, bayi penderita gizi buruk asal Deli Serdang, yang tak mendapat asupan ASI, MTVN - Farida Noris

Metrotvnews.com, Medan: Rumah Sakit Columbia Asia Medan, Sumatera Utara, merawat bayi yang menderita gizi buruk. Bayi tersebut tak mendapat asupan air susu ibu. Sehari-hari ia hanya minum teh.

Radityanto tampak lemah di gendongan sang ibu. Tubuhnya mungil untuk anak berusia satu tahun lima bulan.

Menurut laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bobot tubuh anak normal di usia satu tahun lima bulan, paling rendah 7 kg. Namun Radityanto hanya memiliki bobot 5,9 kg protein dalam sel darah merah tersebut. Hemoglobin dibutuhkan untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

"Kondisinya buruk," kata Marketing RS Columbia Asia Ivo Simorangkir di Medan, Jumat 18 Agustus 2017.

Selain itu, hemoglobin Radityanto hanya 6 gr/dl. Seharusnya nilai normal hemoglobin anak-anak yaitu 10 sampai 16 gr/dl.

Kadar albumin atau protein plasmanya hanya 1 gr dalam setiap 100 ml darah. Kadar normal untuk anak-anak yaitu 3 hingga 5 gr per 100 ml darah. Salah satu fungsi albumin adalah menyediakan protein untuk jaringan.

"Diagnosis giginya juga buruk," ujar Ivo.

Sri Wahyuni, 21, mengaku kondisinya buruk. Warga Deli sedang itu membawa putranya ke puskesmas. Ia mendapat informasi putranya mengalami gizi buruk.

Apa daya, ujar Sri, ia dan suaminya tak memiliki biaya untuk memenuhi gizi sang anak. Ia pun hanya memberikan makanan dan pengobatan seadanya.

"Selama ini anak saya cuma saya beri minum teh karena ASI tidak keluar lagi sejak saya hamil lagi. Tidak sampai setahun dia minum ASI. Kalau untuk beli susu, saya tidak punya uang," ungkap Sri.

Bukannya membaik, kondisi Radityanto memburuk. Sri beserta suaminya, Lasiman, 36, langsung membawa anak mereka ke RS Coulumbia Medan.

Brilian Moktar, anggota DPRD Sumut, menyesalkan kejadian tersebut. Seharusnya, kondisi anak-anak mendapat pantauan dari aparat desa.

Brilian menilai kondisi tersebut terjadi lantaran aparat desa tak peka dengan kondisi masyarakat.

"Dia pasien miskin yang harusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Administrasi yang dibutuhkan untuk pengobatan bisa diurus belakangan," ujar Brilian.

Brilian meminta Bupati Deli Serdang Ashari Tambunan mendatangi warga hingga ke tingkat dewasa. Ia menyarankan Bupati mengurusi kebutuhan bayi Radityanto.

Bila tak sanggup, kata Ashari, pemerintah provinsi yang harus membiayai kebutuhan bayi tersebut. Sebab provinsi memiliki dana untuk membantu masyarakat yang kurang mampu berobat.

"Kasus ini jadi pelajaran buat kita," kata Brilian.







(RRN)