Kerugian Banjir Aceh Utara Capai Rp250 Miliar

Amiruddin Abdullah Reubee    •    Kamis, 07 Dec 2017 18:22 WIB
banjir
Kerugian Banjir Aceh Utara Capai Rp250 Miliar
Genangan banjir di sebagian kawasan Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh hingga, Kamis (7/12) siang mulai surut. Lalu sebagian pengungsi sudah mulai pulang ke rumah.

Aceh Utara: Genangan banjir di sebagian kawasan Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh hingga, Kamis 7 Desember siang mulai surut. Sebagian pengungsi juga sudah mulai pulang ke rumah.

Kepala BPBD Kabupaten Aceh Utara Munawar mengatakan, kerugian akibat banjir besar itu mencapai kisaran Rp250 miliar. Namun pihaknya belum bisa memastikan memastikan secara persis karena banjir belum pulih sempurna.

Kerusakan paling parah yakni kerusakan struktur dan infrastuktur akibat terjangan air. Di antaranya yaitu ada sekitar 5 jembatan, puluhan kilometer badan jalan dan tanggul sungai hancur. Belum lagi kerugian akibat lumpuhnya perekonomian warga.

"Walaupun perkiraan sementara, ini banjir paling besar sejak tiga tahun terakhir," kata Munawar, kepada Media Indonesia.

Dikatakan Munawar, menurut pantauannya cuaca di Aceh Utara pada Kamis 7 Desember siang sudah membaik. Banjir akibat luapan tujuh sungai yang hulunya dari Kabupaten Bener Meriah mulai surut. Jumlah pengungsi yang tersebar di 15 kecamatan dan mencapai 16.375 ribu jiwa, kini berkurang tinggal 9 kecamatan lagi.

Dari 9 kecamatan lokasi pengungsi itu, pihaknya sudah dapat laporan di 7 kecamatan yang jumlarnya 9.751 jiwa. "Sudah ada laporan dari camat, jumlah pengungsi tinggal 9.751 jiwa, mereka tersebar di 7 kecamatan," jelas Munawar.

Para pengungsi banjir yang masih bertahan itu antara lain di Kecamatan Samtalira Aron 1.199 jiwa, Baktiya Barat 532 jiwa dan Kecamatan Lapang 830 jiwa. "Alhamdulillah mudah mudahan terus berkurang dan cuaca semakin normal," ujarnya.

Pada bagian lain, para korban banjir di bumi Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia itu sangat mengharapkan bantuan dari donatur. Pasalnya mereka sekarang krisis bahan makanan, pakaian, selimut, perlengkapan bayi dan air bersih. 

Walaupun ada sebagian korban banjir sudah mulai pulang ke rumah, tapi persediaan beras, bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari sangat minim bahkan tidak ada sama sekali sehingga harus mengharap bantuan tetangga.

Kondisi seperti dikian sangat terasa di Kawasan Kecamatan Pirak Timu yang merupakan sebuah lokasi terpencil yang dilanda banjir parah sekak sepekan terakhir. "Kami jauh dari jalur keramaian ibu kota kabupaten, sulit dari jangkauan pihak luar. Untuk keluar ke pusat kecamatan saja haru menggunakan perahu" tutur Abdur Rahman, tokoh masyarakat Desa Leupe, Kecamatan Pirak Timu.

Kondisi hampir sama juga di katakan Abdul Latif, warga Desa Hueng, Kecamatan Tanah Luas. Latif mengaku belum ada ada bantuan sejak rumahnya terendam 1 meter sejak sepekan terakhir. "Gabah padi yang saya simpan untuk kebutuhan keluargapun sempat terendam. Sekarang sangat menanti bantuan dari donatur lain" pinta lelaki 60an itu. 


(ALB)