Batam Optimistis 'Rebut' Ruang Kendali Udara dari Singapura

Anwar Sadat Guna    •    Selasa, 11 Oct 2016 17:37 WIB
kedaulatan nkri
Batam Optimistis 'Rebut' Ruang Kendali Udara dari Singapura
Beberapa pesawat landing dan parkir di apron Bandara Hang Nadim Batam, MTVN - Anwar Sadat Guna

Metrotvnews.com, Batam: Pemerintah mengintensifkan pembahasan di tingkat kementerian untuk mengambil alih ruang udara blok ABC yang hingga saat ini dikuasai Singapura. Blok tersebut yakni Batam, Tanjungpinang, Karimun, hingga Natuna di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). 

Upaya lain yang dilakukan pemerintah yakni menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kemampuan peralatan navigasi. 

Kepala Bandar Udara (Bandara) Internasional Hang Nadim Batam, Suwarso, mengakui hingga saat ini Singapura masih memegang kendali Flight Information Region (FIR) atas ruang udara Blok ABC. 

"Ruang udara yang masih mereka kuasai atau kendalikan, yakni Batam, Tanjungpinang, Karimun, Natuna, termasuk Pekanbaru. Nah, ini yang masih dalam pembahasan di tingkat kementerian dan Hankam bagaimana agar kita bisa mengambil alih FIR tersebut," kata Suwarso kepada Metrotvnews.com, Selasa (11/10/2016).

Suwarso mengatakan Singapura mulai menguasai ruang udara di sejumlah wilayah di Kepri sejak tahun 1946. Saat itu Singapura berada di bawah jajahan Inggris. Sehingga Singapura memiliki peralatan navigasi yang memadai untuk mengatur lalu lintas pesawat di Singapura, termasuk di Kepri.  
 
Dengan penguasaan tersebut, kata Suwarso, mau tidak mau aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam harus menunggu pemberitahuan (izin) take-off clearance selain dari ATC Batam, juga dari ATC Singapura.  

"Tetapi peraturan ini sedikit tidak berlaku bagi aktivitas penerbangan pesawat TNI AU, misalnya di Lanud Pekanbaru dan Pontianak (Kalbar). Radio akan di-silent ketika pesawat TNI AU akan take off, dan baru akan dinyalakan bila pesawat sudah berada di ketinggian," ujarnya. 

Menurutnya, pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk mengambil alih ruang udara Blok ABC dari Singapura. Selain menyiapkan SDM, pemerintah menyediakan peralatan navigasi/radar yang memadai. Saat ini, Indonesia memiliki empat titik radar masing-masing berada di Medan, Jakarta, Makassar, dan Tanjungpinang (Kepri). 

Pemerintah, sambung Suwarso, sedang mengupayakan untuk meningkatkan kemampuan peralatan navigasi maupun radar yang ada di Tanah Air. Radar milik TNI AU di Tanjungpinang, Provinsi Kepri, saat ini memiliki jarak jangkau hingga 350 neutical mil. 

"Kita berharap bisa mengambil alih FIR atas ruang udara Batam hingga Natuna pada 2020 mendatang. Dari segi SDM, kita sudah siap. Tinggal meningkatkan kemampuan peralatan navigasi kita. Jika ini berhasil, Singapura tidak mengendalikan ruang udara kita lagi," ungkapnya. 

Ditambahkan Suwarso, penguasaan terhadap ruang udara di Kepri oleh negara lain memberikan pengaruh besar dalam berbagai sektor, utamanya pertahanan negara dan keamanan udara. Dengan mengambil alih ruang udara blok ABC, kata dia, akan membawa dampak yang besar terhadap pendapatan negara melalui pemasukan atas lalu lintas pesawat komersil.



(RRN)