Cuaca Ekstrem Sebabkan Banjir Belitung dan Belitung Timur

Ilham wibowo    •    Minggu, 16 Jul 2017 22:34 WIB
banjir bandang
Cuaca Ekstrem Sebabkan Banjir Belitung dan Belitung Timur
Banjir di Belitung dan Belitung Timur sebabkan ribuan rumah terendam banjir dan putus sejumlah akses jalan. Foto: Istimewa

Metrotvnews.com, Belitung: Hujan deras yang turun beberapa hari belakangan di Belitung dan Belitung Timur menyebabkan banjir besar. Belasan kecamatan terendam banjir hingga 2 meter, ribuan rumah terendam, sejumlah akses jalan pun terputus.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut hujan yang turun di dua kabupaten ini sangat lebat. Sungai-sungai meluap karena tak mampu menahan air hujan. Hal ini diperparah dengan lain.

"Daerah aliran sungai tersebut akan tidak berlangsung normal. Kemampuan drainase dan sungai beserta anak-anak sungainya tidak akan mampu menampung aliran permukaan sehingga menimbulkan banjir," papar Suptopo melalui keterangan tertulis kepada Metrotvnews.com, Minggu 16 Juli 2017.

Berdasarkan data BMKG, terukur curah hujan pada 15 Juli 2017 di stasiun Lalang–Manggar, Kabupaten Belitung Timur mencapai 653 mm/hari. Sedangkan di Kelapa Kampit sebesar 306 mm/hari, Air Asam 290 mm/hari, Membalong 302 mm/hari, Perawas 128 mm/hari, dan Sijuk 82 mm/hari.

Besarnya curah hujan yang mencapai 653 mm/hari di Lalang – Manggar adalah kejadian yang ekstrem. Intensitas hujan ini melebihi rata-rata hujan bulanan.

Kerusakan lingkungan memperparah banjir

Tingginya curah hujan juga bertambah parah dengan kerusakan lingkungan di Belitung dan Belitung Timur. Berdasarkan hasil kajian BNPB, air hujan di wilayah Belitung biasanya mengalir sebagai aliran permukaan (run off) dan menggerus permukaan.

Kandungan biji timah dan kaolin banyak ditemukan di daerah endapan batuan granit, sehingga daerah sekitar sungai banyak dimanfaatkan sebagai usaha pertambangan.

Banyaknya usaha pertambangan ini yang tidak didukung dengan upaya perbaikan lingkungan yang banyak menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem lingkungan. Sungai menjadi dangkal dan daya tampung berkurang. Hujan lebat dapat langsung menyebabkan banjir.

"Perlu segera ada kebijakan strategis dari pemerintah setempat untuk melakukan restorasi kerusakan akibat tambang dan melakukan pengerukan di aliran-aliran sungai yang sudah dangkal," kata Sutopo.


(SUR)