Riau Siaga Bencana Banjir dan Longsor

Rudi Kurniawansyah    •    Rabu, 29 Nov 2017 17:44 WIB
banjir
Riau Siaga Bencana Banjir dan Longsor
Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman --Foto: MI/Bagus Himawan--

Pekanbaru: Pemerintah Provinsi Riau, menetapkan status siaga bencana banjir dan longsor. Hal ini sesuai dengan imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca ekstrim yang bisa menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah daerah di Indonesia.

"Kita kembali menetapkan status siaga banjir. Seluruh pihak terkait juga tetap bersiaga mengantisipasi dampak dari banjir dan tanah longsor ini," kata Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman yang kerap disapa Andi Rachman, Rabu 29 November 2017.

Dia menjelaskan, selain kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Riau adalah provinsi yang juga rawan akan bencana banjir dan longsor. Dengan empat sungai besar yang mengalir membelahnya, seiring dengan musim hujan yang terjadi dua kali dalam setahun, bencana banjir rutin juga terjadi 2 dua kali setahun pada periode awal dan akhir tahun. Sementara untuk longsor merupakan insidentil di beberapa wilayah dan waktu tertentu.

Dari data BPBD Riau, bencana banjir pada 2017 telah menyebabkan jatuhnya 3 korban jiwa di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu, 756 jiwa mengungsi 
di Kabupaten Indragiri Hilir, Kampar, Rokan Hulu dan Pelalawan, serta ribuan rumah terdampak akibat bencana banjir di berbagai kabupaten di Provinsi Riau.

Sedangkan bencana longsor mengancam mengisolir 8 desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu dan Kampar Kiri. Longsor menutupi ruas jalan atau akses utama yang menghubungkan ke 8 desa tersebut dengan dunia luar.

"Peristiwa ini telah terjadi dalam dua tahun berturut-turut. Oleh karenanya kita perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam pengurangan risiko bencana banjir dan longsor sehingga dapat mengurangi korban dan kerugian seminimal mungkin," kata Andi Rachman.

Menurutnya, selain curah hujan yang tinggi, bencana banjir dan longsor juga disebabkan oleh beberapa hal. Seperti perusakan dan penggundulan hutan atau kawasan tangkapan hujan di hulu. Kemudian perubahan sistem drainase pembuangan air.

Saluran air seperti got, selokan, dan parit-parit yang mampet, bisa menjadi penyebab meluapnya air ke daerah penduduk atau di jalanan. Sebab, volume air yang berlebih tidak dapat disalurkan melalui saluran atau selokan yang mampet yang akan lebih mudah menyebabkan terjadinya banjir. 

"Tidak adanya keperdulian untuk membersihkan secara berkala terhadap got, selokan, parit dan saluran air lainnya akan menyebabkan saluran tersebut suatu saat menjadi mampet," ujar Andi.

Selain itu, membuang sampah sembarangan. Inilah salah satu faktor penyebab dimana sungai-sungai, selokan maupun parit tidak mampu menampung jumlah volume air yang banyak. Sungai-sungai dan selokan menjadi sempit dan terhenti arusnya karena sampah-sampah yang banyak dan menyumbat arus air di sungai maupun di selokan.

"Tanah yang tertutup semen, paving dan aspal secara meluas dan masif menyebabkan air hujan yang turun sulit menginfiltrasi ke tanah, sehingga volume air yang mengalir sangat besar di atas semen, paving maupun aspal tanpa terserap oleh tanah. Hujan dengan intensitas besar segera menimbulkan genangan di tempat rendah dan kemudian menjadi banjir," jelasnya.

Dia mengungkapkan koordinasi, keterpaduan, keperdulian serta respons yang cepat, diperlukan dalam penanggulangan bencana banjir dan longsor. Karena itu, Andi mengimbau agar seluruh masyarakat Riau meningkatkan kewaspadaan, dan menyiapkan perbekalan, obat-obatan pribadi terutama bagi yang tinggal di pemukiman yang rawan terhadap bencana banjir dan longsor.



(ALB)