44 Warga Sumut Meninggal Akibat DBD

Farida Noris    •    Sabtu, 26 Nov 2016 12:28 WIB
demam berdarah
44 Warga Sumut Meninggal Akibat DBD
Ilustrasi. Foto: Antara/Maulana Surya

Metrotvnews.com, Medan: Sebanyak 44 warga Sumatera Utara tercatat meninggal akibat menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) selama 2016. Kasus kematian pasien DBD ini umumnya terjadi akibat ketidaktahuan masyarakat tentang fase kritis.

"Selama Januari-Oktober 2016, ada 44 orang meninggal akibat DBD. Di tahun sebelumnya kasus kematian akibat DBD juga menyebabkan 44 orang meninggal," kata Kepala Bidang PMK (Penanggulangan Masalah Kesehatan) Dinas Kesehatan Sumut dr. N.G. Hikmet, Jumat (25/11/2016)

Hikmet mengatakan kasus kematian tertinggi terjadi di Asahan. Di wilayah ini, ada 15 orang meninggal. Disusul Kota Medan 7 orang meninggal. Kemudian, Labuhan Batu Selatan 4 orang meninggal dan Nias Selatan 3 orang meninggal.

"DBD sering dimulai dengan kenaikan suhu yang mendadak disertai wajah panas memerah dan gejala flu. Demam biasanya berlangsung 2-7 hari dan suhunya bisa mencapai 41 derajat," jelasnya.

Pada kasus yang parah, kata Hikmet, kondisi pasien dapat tiba-tiba memburuk setelah beberapa hari demam. Saat itu, demam tinggi mulai mereda diikuti terjadinya rasa nyeri di bagian perut, perdarahan seperti mimisan, gelisah dan lemah, BAB hitam, perut membuncit, serta volume urine berkurang.

"Banyak yang mengira ketika demam mereda, penyakit yang diderita itu sudah hilang. Padahal, turunnya demam justru bisa menjadi pertanda terjadinya shock atau kritis. Ini harus diwaspadai," ucapnya.

Dia mengingatkan agar pasien DBD segera mendapatkan pertolongan medis. Karena, bila masa kritis tidak diatasi secara dini, pasien DBD bisa mengalami kebocoran plasma dan perdarahan pada saluran cerna yang bisa mengakibatkan kematian.

"Memang sulit bagi orang awam untuk mengetahui secara pasti apakah demam yang dialami disebabkan demam berdarah atau yang lain. Jadi, sangat dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter," kata dia.


(UWA)