Pedagang Beras di Pekanbaru Rugi Jika Ikut HET Pemerintah

Anwar Sadat Guna    •    Jumat, 01 Sep 2017 15:35 WIB
beras
Pedagang Beras di Pekanbaru Rugi Jika Ikut HET Pemerintah
Seorang pedagang beras di Pasar Kodim, Kota Pekanbaru, Provinsi Kepri.

Metrotvnews.com, Pekanbaru: Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras oleh pemerintah mendapat respons dari para pedagang beras di Pekanbaru, Provinsi Riau. Pedagang mengaku rugi jika mengikuti HET beras, terutama bagi beras premium. 

"Beras dengan kualitas bagus yang kami jual rata-rata berkisar Rp13.000 hingga Rp13.500 per kilogram (kg). Kalau diminta menjual seharga Rp11.500 per kg tentu kami rugi," kata Lena, pedagang beras di Pasar Kodim, Kota Pekanbaru, saat ditemui Metrotvnews.com, Jumat, 1 September 2017.

Beras premium atau beras dengan kualitas bagus tersebut, kata Lena, umumnya didatangkan dari Sumatera Barat (Sumbar), tepatnya dari Kota Solok dan Payakumbuh. 

Harga eceran beras yang dikenal dengan nama Anak Daro tersebut dijual Rp13.000-Rp13.500. Adapun harga jual ukuran 5 Kg yakni Rp125 ribu-Rp130 ribu. Selain beras ini, para pedagang di Pekanbaru juga banyak menjual beras Pandan Wangi. Harga sekilonya Rp14.000.

Dengan jarak tempuh yang jauh untuk mengambil beras langsung ke Sumbar, para pedagang di Pekanbaru harus mengeluarkan biaya transportasi, buruh angkut, maupun uang makan sopir. 

"Sehingga sulit rasanya jika pemerintah memaksakan menetapkan harga beras premium seharga Rp11.500 per kg. Kecuali jika pemerintah melalui Bulog memasok beras premium ke kami dan menetapkan harganya, ya mungkin bisa (Rp11.500 per kg)," aku Lena.

Ia menuturkan, beberapa waktu lalu Bulog menyuplai beras medium dan premium ke para pedagang di Pasar Kodim. Namun beras tersebut kurang diminati pembeli karena kualitasnya kalah jauh dengan beras asal Sumbar. 

"Beberapa pekan ini Bulog belum mengantarkan lagi beras pemerintah ke kami. Mungkin stok mereka habis. Selama ini, beras medium dari Bulog memang kami jual seharga Rp9.000 per kg, dan premium Rp11.500. Tapi sekarang stoknya lagi nggak ada," ujarnya. 

Pedagang beras lainnya, Chandra juga mengaku tidak bisa dapat untung jika harga beras premium harus dijual Rp11.500 per kg. Harga beras premium di tokonya rata-rata Rp13.000-Rp14.000 per kg.

"Kalau harga beras ini (Beras Anak Daro dan Pandan Wangi) yang mau diatur HET-nya oleh pemerintah, saya rasa sulit. Karena beras ini kami datangkan langsung dari daerahnya di Sumbar dan perlu diperhitungkan biaya transportasi yang harus kami keluarkan untuk mendatangkan beras tersebut," ujarnya. 

Kecuali, sambung Chandra, pemerintah menyiapkan beras jenis medium dan premium yang dijual kepada masyarakat. "Kami sudah dapat informasi soal HET beras di televisi, tetapi sosialisasi dari Bulog di daerah sampai saat ini belum ada," tuturnya. 

Novi, warga Pekanbaru menyambut baik rencana Kemendag dan Kementan RI menetapkan HET beras medium dan premium. HET tersebut bisa membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pokok terutama beras. 

"Harga beras di tingkat pedagang saat ini bervariasi, dari Rp11.500 hingga Rp14.000. Jika ada HET yang ditetapkan pemerintah, sedikit banyaknya bisa membantu masyarakat," ujarnya.


(ALB)