94 Titik Panas Membara di Sumatera

Rudi Kurniawansyah    •    Selasa, 13 Sep 2016 18:24 WIB
kebakaran hutan
94 Titik Panas Membara di Sumatera
Ilustrasi. Foto: Antara/Rony Muharman

Metrotvnews.con, Pekanbaru: Titik panas indikator pembakaran hutan dan lahan kembali marak di Sumatera. Dari pantauan satelit terra dan aqua terdeteksi sebanyak 94 titik panas tersebar di delapan provinsi di Sumatera.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Sugarin, mengatakan ke-94 titik panas itu terdeteksi pada pukul 16.00 WIB, Selasa 13 September 2016. 

Jumlah titik panas terbanyak berada di Riau dengan total 27 titik, disusul Sumatera Selatan 25 titik, Sumatra Barat 18 titik, Lampung 8 titik, Jambi 7 titik, Bengkulu dan Bangka Belitung masing-masing 4 titik panas, dan Sumatera Utara 1 titik panas.

"Di Riau, 11 titik panas terdapat di Rokan Hilir, disusul Pelalawan 5 titik, Rokan Hulu 4 titik, Indragiri Hulu 2 titik, Kampar dan Meranti masing-masing 1 titik panas," jelas Sugarin.

Kepala Satgas Siaga Darurat Karhutla Riau yang juga Komandan Lanud Roesmin Nurjadin, Marsekal Pertama (Marsma) Henri Alfiandi, mengatakan lonjakan titik panas selalu terjadi pada saat hari libur. 

Para pembakar lahan biasanya memanfaatkan celah hari libur kerja untuk membakar. "Mereka beraksi menjelang sore dan malam hari," katanya. 

Padahal, selama sepekan terakhir Satgas Darurat Karhutla telah berhasil menekan jumlah pembakaran karhutla dengan nihil titik api.

"Kami akan lakukan operasi yustisi. Sudah dikoordinasikan dengan tim darat. Harus ada yustisi, jangan omong tok," ungkapnya.

Sejauh ini tim satgas udara terus berupaya memadankan api menggunakan water bombing oleh sejumlah helikopter. Bahkan, dua helikopter MI-8 dan Sikorsky S-61 langsung dikerahkan untuk pemadaman di kawasan Hutan Lindung Perbukitan Suligi, Kecamatan 13 Koto Kampar, Kampar selama libur Iduladha.

Kasi Base Ops Lanud Roesmin Nurjadin Mayor Ferry Dumantoro mengatakan pembuatan hujan buatan dengan teknologi modifikasi cuaca telah menghabiskan sebanyak 51.640 ton garam NaCl. Sedangkan sisa digudang tinggal sebanyak 23.430 ton.

"Operasi water bombing dan teknologi modifikasi cuaca terus kami lakukan. Pemadaman water bombing terutama ditujukan untuk daerah yang sulit dijangkau tim darat," jelasnya.

 


(UWA)