Menakertrans Sebut Pengangguran Berpendidikan di Indonesia Meningkat

Alwi Alim    •    Kamis, 20 Apr 2017 12:49 WIB
kemenaker
Menakertrans Sebut Pengangguran Berpendidikan di Indonesia Meningkat
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dakhiri -- MTVN/Alwi Alim

Metrotvnews.com, Palembang: Tingkat pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi di Indonesia meningkat. Pasalnya, banyaknya lulusan pendidikan formal dengan kebutuhan pasar kerja belum seimbang.

Terbatasnya lapangan kerja juga menyebabkan banyak lulusan tidak bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan. "Saya tidak tahu persis datanya. Tapi, baru 37 persen yang nyambung antara output pendidikan formal dengan kebutuhan di pasar kerja. Sisanya, masih belum nyambung. Misalnya, lulusan dari pertanian bekerja di perkebunan, ini baru sesuai," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dakhiri di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis, 20 April 2017.

Di era persaingan tenaga kerja saat ini, lanjut Hanif, pemerintah mengenjot peningkatan akses pelatihan kerja. Salah satunya dengan program magang struktur.

"Pada program magang struktur, kami melibatkan sekitar 2.648 perusahaan. Setiap perusahaan kami minta yang magang itu sekitar 100 orang," terang Haif.

Hanif menjelaskan, magang struktur ini berbeda dengan magang biasa. Biasanya, pegawai magang hanya disuruh fotokopi dan pekerjaan ringan lainnya. Pada program magang struktur, pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan jabatannya.

"Misalnya, jika magang sebagai kasir, maka di perusahaan tempat magangnya juga diletakkan sebagai kasir. Kemudian setelah selesai magang, akan dilakukan uji kompetensi dan diberikan sertifikasi profesi," terang Hanif.

Hanif berharap, program magang struktur dapat meningkatkan kualitas angkatan kerja di Indonesia. Selain itu, pihaknya juga tengah menyampaikan kepada Kementrian Keuangan agar anggaran pendidikan ada yang direlokasikan untuk pelatihan kerja.

Contohnya, lanjut Hanif, lulusan SD dan SMP yang tidak bisa meneruskan pendidikan formal harus diperkuat dengan pelatihan kerja. Dengan begitu, mereka memiliki modal untuk bekerja maupun menjadi wirausaha.

"Untuk biaya anggaran tentunya sangat besar. Karenanya, dibutuhkan komitmen dari semua pihak," pungkasnya.


(NIN)