Vonis 5 Tahun Peneror Gereja Medan Dianggap Terlalu Berat

Farida Noris    •    Selasa, 04 Oct 2016 19:48 WIB
bom bunuh diri
Vonis 5 Tahun Peneror Gereja Medan Dianggap Terlalu Berat
?IAH saat dijenguk orang tuanya di LPA Salemba. Foto: Istimewa

Metrotvnews.com, Medan: Tim penasehat hukum terdakwa IAH, pelaku teror bom Gereja Santo Yosep Medan, menempuh upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta. Pasalnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhi IAH dengan hukuman lima tahun lima bulan penjara.

"Setelah diskusi dengan orang tua IAH dan tim penasehat hukum dari Medan dan Jakarta, maka kami ajukan banding. Kami daftarkan banding ke Pengadilan Tinggi Senin (3/10/2016)," ucap Rivai Kusumanegara, tim penasehat hukum terdakwa IAH, Selasa (4/10/2016).

Rivai mengatakan putusan yang dijatuhkan majelis hakim terlalu berat. Padahal IAH masih anak-anak. Apalagi IAH sebenarnya bukan pelaku utama. IAH yang saat melakukan kejahatannya masih berusia 17 tahun itu juga telah meminta maaf ke pihak gereja.

"Putusannya terlalu berat, perspektif anaknya tidak muncul. Padahal ini perkara anak di bawah umur dan tidak ada korban jiwa. IAH juga sudah minta maaf ke pihak gereja, masyarakat dan Presiden. IAH punya cita-cita dan harapan. Sayangnya ini tidak dipertimbangkan," ucap Rivai.

Tak hanya itu, menurut Rivai, BNPT, KPAI dan BAPAS juga merekomendasikan agar IAH direhabilitasi dan menjalani program deradikalisasi di Pesantren Darusy Syifa. 

"Makanya dalam memori banding nantinya kita minta agar IAH menjalani program sesuai rekomendasi itu. Kita juga sudah ajukan agar IAH menjadi justice collaborator. Karena kita yakin kasus ini melibatkan pihak lain. Artinya, otak pelaku kasus ini belum tertangkap," terangnya.

Saat ini, katanya, IAH ditahan di LPA Salemba dan masih bisa berinteraksi dengan narapidana teroris dewasa. "Ini jadi persoalan. Kita takutkan ini bisa berdampak buruk bagi IAH," kata dia.

Abdul Bari A Rahim memvonis IAH dengan hukuman lima tahun lima bulan bui pada 29 September 2016. IAH dianggap terbukti bersalah sebagaimana yang diatur dan diancam dalam Pasal 7 UU RI Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 

IAH melakukan percobaan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansur Medan, Minggu 28 Agustus 2016. Ledakan bom berkekuatan rendah terjadi sekitar pukul 08.20 WIB saat Pastor Albert Pandiangan selesai membaca kitab suci. 

Saat itu tas ransel yang dibawa IAH meledak. IAH lantas mengejar Pator Albert ke altar sembari membawa pisau dan kapak. Pelaku yang sempat menusuk lengan kiri Albert kemudian ditangkap umat.




(UWA)