HET Diberlakukan, Distributor Beras Terancam Merugi

Alwi Alim    •    Kamis, 31 Aug 2017 16:06 WIB
harga beras
HET Diberlakukan, Distributor Beras Terancam Merugi
Gudang beras di Pasar Sekanak Palembang, MTVN - Alwi Alim

Metrotvnews.com, Palembang: Pemerintah menyepakati harga eceran tertinggi (HET) untuk beras. Namun bagi distributor beras di Palembang, Sumatera Selatan, penetapan HET baru bakal mengurangi pendapatan.

Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) tentang ketetapan HET beras berlaku mulai 1 September 2017. Harga beras dibagi dalam dua kategori, medium dan beras premium. 

Untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi ditetapkan sebesar Rp9.450 per kilogram untuk beras medium. Sedangkan HET beras premium yaitu Rp12.800 per kg.

Widharta, distributor beras di Jalan Sungai Buaya, Palembang, mengaku sudah mendapat informasi mengenai HET. Namun ia khawatir penetapan HET justru membuatnya rugi.

Widharta membeli beras kepada petani di Banyuasin. Harganya yaitu Rpribu per kg. Kemudian menyortir beras medium dan premium.

Ia menjual beras berkualitas medium dengan harga Rp10 ribu per kg. Sedangkan harga beras premium Rp12 ribu per kg.

Bila merujuk pada Permendag, HET beras medium lebih rendah ketimbang harga yang dijual Widharta. Artinya, Widharta merugi kurang lebih Rp350 per kg. Sedangkan HET beras premium lebih tinggi sebesar Rp800 per kg dibanding beras yang dijual Widharta.

"Makanya dengan adanya HET ini tentunya pendapatan kami berkurang belum lagi untuk biaya untuk pengolahan beras tersebut," kata Widharta di gudangnya, Kamis 31 Agustus 2017.

Widharta mengaku ia juga harus menanggung biaya angkut dari Banyuasin ke Palembang. Meski demikian, Widharta akan tetap menaati aturan pemerintah.

Sementara itu, Arsan, distributor di Pasar Sekanah Palembang, mengaku tak terpengaruh dengan penerapan HET. Sebab ia menjual beras kualitas lokal.

"Kami jual beras lokal ini Rp8.200 per kilo, sedangkan kami membeli sekitar Rp7.900 sampai Rp8 ribu. Jadi keuntungan kami hanya Rp200 per kilo nya,", kata, Arsan. 

Ia membeli beras dari pengecer.  Namun, hanya sekitar 10 ton sampai 20 ton, jika lebih dari itu ia mengaku tidak sanggup membelinya karena takut tidak terjual. Pihaknya kemudian langsung menjual ulang beras tersebut karena tidak ada alat untuk memisahkan beras sedang dan premium. 

"Kami menjual beras ini eceran juga tergantung dari pemesanan," pungkasnya. (Alwi Alim) 



(RRN)