SDN di Pekanbaru Ini Hanya Dapat 9 Murid

   •    Rabu, 12 Jul 2017 20:05 WIB
pendidikan
SDN di Pekanbaru Ini Hanya Dapat 9 Murid
Ilustrasi: Siswa SD --Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya--

Metrotvnews.com, Pekanbaru: Sebanyak 38 dari 195 SD Negeri di Kota Pekanbaru kekurangan murid. Bahkan, hasil evaluasi Dinas Pendidikan penerimaan murid baru di  SDN Jalan Mangga Pasar Kodim cuma ada sembilan murid yang mendaftar.

"Hasil evaluasi penerimaan murid baru tahun ajaran 2017/2018 kami dapati ada SDN yang murid barunya tidak penuhi kuota ruangan karena cuma sembilan orang satu lokal," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Abdul Jamal, Rabu 12 Juli 2017.

Abdul Jamal mengatakan, ini dikarenakan para orangtua murid terlalu memaksakan diri mendaftarkan anaknya ke satu sekolah dan rebutan walau sudah penuh quotanya.

"Saya kecewa banyak orangtua memaksakan diri," kata Jamal sapaan akrab media ini.

Padahal sebut dia, pemerintah Kota sudah menerbitkan Peraturan Walikota (Perwako) no 17 Mei 2017 tentang sistem penerimaan murid baru termasuk porsi tempatan, reguler dan luar kota. Artinya jikalau semua orangtua patuh dan turuti aturan ini maka masalah tidak akan terjadi.

Karena tujuannya jelas untuk memeratakan pendidikan dan kualitas peserta didik. Sehingga pada akhirnya semua sekolah akan jadi unggulan sebab muridnya disebar tidak menumpuk di satu tempat saja.

Ia mengaku kecewa karena disatu sisi masyarakat justru mengeluhkan dan memperebutkan beberapa SDN untuk dijadikan tempat belajar anak mereka. Sementara masih ada sekolah yang tidak miliki murid sesuai kuota ruangan maksimal 28 bahkan bisa menjadi 36 hingga maksimal 40 orang perlokal bagi
beberapa lokasi.

Ia juga heran mengapa para orang tua terlalu memaksakan anak mereka bersekolah disatu SDN tertentu sementara di sudut lainnya ada yang kekurangan murid. Seperti, SDN Jalan Mangga Pasar Kodim.

"Mereka kekurangan murid, sementara sekolah lain yang di belakang Kantor Walikota Pekanbaru berebut," bebernya.

Bukan hanya itu ia menambahkan bahkan ada para orangtua yang memaksakan agar pihak sekolah menambah ruang kelas, hingga jam masuk sekolah menjadi tiga shiff asal anak mereka diterima disekolah keinginan mereka.

"Itu suatu hal yang mustahil karena dengan dua sif saja sudah masuk pagi dan siang lantas mau masuk malam sif tiga, siapa gurunya," kata dia balik bertanya.

Karena itu ia mengimbau agar masyarakat faham bahwa sekolah tidak meski di negeri sebab masih ada swasta yang kualitasnya lebih bagus.

"Bagi yang punya kemampuan ekonomi kami harapkan menyekolahkan anaknya ke swasta," ajaknya. (Antara)



(ALB)