Masyarakat Diminta Waspadai Upal

Alwi Alim    •    Rabu, 14 Jun 2017 16:31 WIB
upal
Masyarakat Diminta Waspadai Upal
Penjual jasa penukaran uang baru menawarkan uang baru kepada pengguna jalan di pinggiran jalan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (6/6). --ANTARA FOTO /ZABUR KARURU--

Metrotvnews.com, Palembang: Potensi peredaran uang palsu (upal) jelang Lebaran di Sumatera Selatan patut diwaspadai. Potensi itu lantaran banyaknya transaksi pembelian dan penjualan jelang Lebaran.

Kapolresta Palembang, Kombes Wahyu Bintono Hari Bawono mengatakan, sejauh ini belum ada laporan terkait upal. Namun, pihaknya meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap peredaran upal ini.

"Kami minta juga partisipasi masyarakat untuk melaporkan jika ada upal serta pergerakan yang mencurigakan," kata Wahyu, Rabu, 14 Juni 2017.

Sementara itu, Kabag Ops Polresta Palembang, Kompol Marully Pardede mengakui potensi peredaran upal di Palembang dapat saja terjadi pada H-3 lebaran Idulfitri. Namun, pihaknya akan meminimalisir terjadinya hal tersebut dengan menjaga beberapa titik seperti di mal dan lain sebagainya tempat dijadikannya transaksi.

"Untuk di mal kami menempatkan penjagaan 5 sampai 10 anggota Polwan, jadi jika memang ada yang mencurigakan dapat langsung dilaporkan kepada yang berjaga," katanya.

Untuk di lokasi keramaian seperti di Pasar 16 Ilir, Palembang, Polresta menempatkan personel bersepeda untuk berpatroli. Berkaca dari tahun 2016 tidak ada laporan bahwa adanya upal ini, namun memang ada tiga laporan penipuan pembelian emas.

"Penipuan ini, pembeli membeli emas dengan harga murah ternyata bukan emas tapi sepuhan atau kuningan," terangnya.

Terkait percaloan penukaran uang, dirinya menambahkan, pihaknya sedikit kesulitan karena adanya kesepakatan antara konsumen dengan calo, sehingga sulit ditindak. Jika tidak ada kesepakatan antara konsumen dan calon maka itu dinilai penipuan sehingga dapat ditindak.

"Biasanya antara konsumen dan calo itu ada kesepakatan, misal si konsumen ingin menukarkan uang Rp1 juta dengan pecahan kecil lalu diberikan Rp900 ribu disetujui konsumen maka itu bukan pelanggaran, tapi jika kesepakatan Rp1 juta tapi diberikan Rp900 ribu tanpa sepengetahuan konsumen maka itu dianggap penipuan dan dapat ditindak," terangnya.

Karena itu, pihaknya membutuhkan dukungan masyarakat, jika memang tidak sesuai dengan nilai tukar dan lain sebagainya jangan melakukan transaksi dengan calo. "Jika memang merasa tertipu maka segera laporkan kepada anggota yang berjaga," ujarnya.
(ALB)