Cerita Halil Menyelamatkan Istri saat Kapal Tenggelam

Anwar Sadat Guna    •    Jumat, 04 Nov 2016 09:16 WIB
kapal tenggelam
Cerita Halil Menyelamatkan Istri saat Kapal Tenggelam
Ilustrasi. Tim gabungan mengevakuasi korban yang selamat. Foto: MI/Hendri Kremer

Metrotvnews.com, Batam: Muhammad Halil, 26, menangis histeris saat tiba di kamar jenazah RS Bhayangkara Polda Kepri, Rabu (3/11/20160 malam. Pria asal Lombok Tengah ini kaget mengetahui istri bersama tiga kerabatnya tewas dalam peristiwa kapal tenggelam di perairan Tanjungmemban, Teluk Mata Ikan, Kecamatan Nongsa, Batam.

Halil seperti tak percaya, kepulangannya bersama 98 penumpang dari Malaysia tujuan Batam harus berakhir tragis. Kapal tenggelam dan sebanyak 18 orang meninggal, salah satunya adalah sang istri, Aisyah, 28.

Selain istrinya, tiga kerabatnya yakni kakak ipar bernama Mahrun, Zaenab (istri Mahrun), dan Zaenatul (anak Mahrun) juga turut menjadi korban tewas. Duka Halil bertambah, mengetahui sepupunya, Khaeril, belum ditemukan hingga hari kedua pencarian. 

Sambil terus beristigfar, Halil, menceritakan bagaimana ia menyelamatkan istrinya dan Zaenab sesaat setelah kapal tenggelam.

"Malam itu sekitar pukul 03.30 waktu setempat, 101 orang termasuk saya menumpang kapal dari Malaysia menuju Batam," tutur Halil memulai cerita.

Baca juga: 44 Korban Kapal Tenggelam Belum Ditemukan

Selama perjalanan dari Malaysia hingga masuk perairan Indonesia lancar. Sampai di Tanjungmembang, kapal terhenti dan menabrak karang.

"Beberapa di antara kami, penumpang laki-laki turun untuk mendorong kapal yang sempat terhimpit karena menabrak karang. Setelah itu, kapal bisa melanjutkan perjalanan," kata Halil. 

Namun baru berjalan beberapa menit, kapal diterpa ombak besar dari arah kiri. Seketika kapal terbalik dan seluruh penumpang tumpah ke laut. Halil hanya ingat istrinya, Aisyah dan istri kakak iparnya Zaenab untuk diselamatkan.

 Hanya mengandalkan kekuatan kaki, sekuat tenaga Halil tetap berenang sambil memeluk istrinya di sebelah kanan dan Zaenab di sisi kiri. Sayang, besarnya ombak menghempaskan ketiganya hingga terpisah.

"Saya berusaha menyelamatkan mereka. Malam itu, keduanya juga mulai banyak kemasukan air. Ombak yang cukup deras membuat gengaman saya tak bisa bertahan dan tubuh mereka. Pertama Zaenab, dan tak lama kemudian istri saya,"  tutur Halil. 

Baca juga: Kronologi Tenggelamnya Kapal TKI di Batam

Ia pun pasrah dan berusaha menyelamatkan diri. Ia tak tahu lagi bagaimana nasib tiga kerabatnya yang lain. Halil bisa menyelamatkan diri ketika dua tas kecil ia gunakan untuk berpegang sembari berenang. Tak lama kemudian muncul kapal nelayan dan menyelamatkannya menuju daratan. 

Jenazah Aisyah, Mahrun, Zaenab, dan Zaenatul masih berada di Kamar Jenazah RS Bhayangkara Polda Kepri. Sementara satu kerabatnya yang lain, yakni Khaeril hingga kini belum ditemukan.  

Halil mengaku sudah menetap selama 4 tahun di Malaysia. Ia bekerja menjaga salah satu peternakan kambing di Malaysia. Ia dan kerabatnya memilih pulang ke Tanah Air karena izin tinggal mereka di Malaysia sudah habis. Rencananya, Halil dan istrinya akan pulang ke kampung halaman di Lombok. 

Sebelumnya, sebuah kapal cepat yang membawa 98 TKI ilegal tenggelam di perairan Tanjungmemban, Kecamatan Nongsa, Batam, Rabu (2/11/2016). Dalam peristiwa itu, 18 korban ditemukan meninggal, 41 orang selamat, dan 42 orang lainnya belum ditemukan. Proses pencarian yang dipimpin Basarnas akan dilanjutkan esok pagi sekira pukul 08.00.
 


(MEL)