Warga di Sumut Akui Sulit Dapatkan Elpiji Bersubsidi

Budi Warsito    •    Jumat, 29 Sep 2017 16:58 WIB
stok elpiji
Warga di Sumut Akui Sulit Dapatkan Elpiji Bersubsidi
Penjual elpiji di Wonogiri, Metrotv - Andy Kurniawan

Metrotvnews.com, Medan: Warga di beberapa daerah di Sumatera Utara, kesulitan mendapatkan gas elpiji bersubsidi. Namun PT Pertamina (Persero) membantah terjadi kelangkaan elpiji.

Ebina, 56, warga Kota Medan, mengaku kesulitan menemukan epiji bersubsidi dengan tabung berukuran 3 Kg dalam sepekan terakhir. Ia mengaku mendatangi tiga toko yang menjual elpiji eceran di sekitar rumahnya. Namun, usahanya tak membuahkan hasil.

"Yang ada hanya gas dengan tabung ukuran 12 Kg. Capai mau cari lagi," kata Ebina ditemui di rumahnya di Kota Medan, Jumat 29 September 2017.

Hal serupa dialami Elpheria, 48. Warga Sunggal, Deli Serang, itu mengaku tak mudah mendapatkan elpiji bersubsidi. Bilapun dapat, harganya tinggi.

“Udah langka, mahal lagi. Biasanya paling mahal Rp21 ribu per tabung. Sekarang paling murah Rp25 ribu," ungkap Elpheria.

Di Kota Binjai, kesulitan mendapatkan elpiji bersubsidi terjadi dalam dua pekan terakhir. Ismail, 51, warga Kebun Lada, mengaku kesulitan menemukan elpiji padahal ia membutuhkanya untuk berdagang.

Sekarang, ia membeli elpiji nonsubsidi berukuran tabung 5 Kg. Sebagai pedagang kecil, ia mengaku masih membutuhkan subsidi .

"Kami ini pedagang kecil ini kan harusnya disubsidi pemerintah," ungkap Ismail.

Di Langkat pun, elpiji bersubsidi langka dalam sepekan terakhir. Unggun, 42, pemilik agen elpiji di Namo Ukur mengaku tak mendapat pasokan dari distributor.

Unggun mendapat informasi distributor tak lagi memasok elpiji bersubsidi. Sehingga stok di pangkalannya pun kosong.

"Kalau sudah kosong begini kan semua repot. Harusnya ini bisa diantisipasi Pertamina, dengan melarang warga yang mampu, menggunakan elpiji 3 kilogram,”tukasnya.

Di lain tempat, Officer Communication & Relations PT Pertamina Marketing Operation Region I-Sumbagut, Arya Yusa Dwicandra, mengatakan stok elpiji 3 Kg tak kosong. Justru Pertamina memiliki dua depot elpiji di Pangkalan Susu dan Tandem. Stoknya mencukupi hingga 13 hari.

“Tapi karena LPG 3 kg ini disubsidi dan dibatasi. Kuota tahunannya disepakati pemerintah pusat. Maka Pertamina hanya bisa menyalurkan sesuai kuota tersebut," ujar Arya.

Ia mencontohkan kuota untuk Kota Medan pada 2017 yaitu 24 juta tabung. Kalau kuota habis, Pertamina tak akan menambah lagi.

"Kalau yang non-subsidi memang banyak stoknya karena memang tidak dibatasi kuotamya seperti elpiji 3 Kg," lanjut Arya.

Arya menyatakan, pihaknya dapat menyalurkan kouta tambahan. Tetapi dengan catatan, jika pemerintah daerah mengusulkan kuota tambahan kepada pemerintah pusat. 

“Sejauh ini kita belum tahu apakah Pemda setempat sudah mengajukan ke pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM atau belum. Nanti kita cek lagi. Tapi selagi tidak ada pengajuan, tidak akan ada penambahan,”tegasnya.

Arya menambahkan Pertamina hanya bisa mengimbau kepada warga yang tergolong mampu untuk berhenti menggunakan elpiji bersubsidi. Sejatinya, elpiji bersubsidi untuk warga tak mampu.


(RRN)